Oleh: opiniperikanan | April 1, 2014

Menyikapi Target Produksi Perikanan Budidaya 2015-2019

Menyikapi Target Produksi Perikanan Budidaya 2015-2019

Oleh: ARIF SUJOKO

Sebagai tindak lanjut target produksi perikanan budidaya nasional dan Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung mendapatkan tugas untuk meningkatkan target produksi perikanan budidaya pada periode 2015-2019 sebesar 22,5% setiap tahunnya.

Saya tidak tahu bagaimana pertimbangan teknis dari penetapan target produksi tersebut. Dari informasi yang simpang siur dan belum tentu kebenarannya yang terungkap hanyalah sebuah tinjauan teoritis bahwa jika potensi lahan budidaya yang dimiliki sekian persen, maka dengan pemanfaatan sekian persen secara teori target produksi akan mampu dicapai.

Secara teori pendapat di atas tentu tidak ada yang menyangkal. Tetapi ketika sebuah proses budidaya ikan dilakukan oleh ribuan orang dengan kondisi yang berbeda-beda, baik kapasitas sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya, sehingga proses tersebut tidak lagi berada dalam kondisi “terkontrol”, tinjauan yang tepat tidak lagi teoritis, melainkan empiris yang bersumber dari hasil suatu survai yang valid. Misalnya, rata-rata produktivitas maupun perkembangan luas lahan “riil” dari tahun ke tahun.

Kembali ke target kenaikan produksi 22,5% per tahun. Di atas kertas, mudah sekali menuliskan proyeksi datanya sebagaimana grafik di bawah. Sama mudahnya dengan menuliskan realisasinya ketika statistik berada dalam situasi kelemahan kelembagaan. Tetapi, secara teknis, bagaimana penjelasan agar target produksi tersebut tercapai?

target produksi

 

Grafik di atas menunjukkan dua tipe ramalan produksi, secara linier dan berdasarkan target kenaikan 22,5 % per tahun. Ramalan linier didasarkan data 5 tahun sebelumnya dan merupakan petunjuk tentang angka produksi kalau kondisi 5 tahun ke depan tidak jauh berbeda dengan 5 tahun sebelumnya. Artinya, kalau kegiatan pemerintah di bidang perikanan budidaya dan juga kegiatan pembudidayanya relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya, maka jangan berharap bahwa angka produksi berada jauh di atas angka ramalan sebagaimana proyeksi berdasarkan target kenaikan produksi.

Kenaikan volume produksi perikanan budidaya secara umum dipengaruhi oleh peningkatan produktivitas dan/ atau pertambahan luas lahan budidaya. Peningkatan produktivitas kerap kali diasosiasikan dengan teknologi, bukan hanya ketersediaannya tetapi juga persebaran dan penerapannya di masyarakat secara luas. Dalam hal ini, kita bisa berkaca, seberapa luas kemampuan kita menyebarkan teknologi perikanan budidaya.

Hampir 3 tahun terakhir ini, ketika saya memutuskan untuk “lebih dekat” dengan pembudidaya, saya seringkali merasakan betapa transfer “prinsip dan kaidah dasar budidaya ikan” tidaklah semulus yang sering kita bayangkan walaupun teknologi informasi sudah jauh berkembang. Lantas, bagaimana kecepatan transfer teknologi baru?

Demikian juga dengan pertambahan luas lahan, perlu dilihat bagaimana secara empiris trend pertambahan luas lahan. Karena pertambahan luas lahan erat kaitannya dengan investasi baru yang tidak hanya dipengaruhi oleh aspek teknis, tetapi juga banyak aspek lainnya yang seringkali di luar kendali Dinas Kelautan dan Perikanan.

Dengan menganalisis data statistik perikanan budidaya yang telah lalu sekaligus mengukur kuantitas, kualitas, dan jangkauan kegiatan Dinas Kelautan dan Perikanan, adalah cukup pantas apabila batas tertinggi kenaikan produktivitas budidaya ikan di Tulungagung yang masih wajar setiap tahunnya sebagai berikut: lele 5,77 %, patin 5,78 %, gurami 6,80 %, nila 2 %, dan udang vaname 2 %.

Angka-angka tersebut menunjukkan batas kemungkinan peningkatan produksi sekalipun tanpa ada pertambahan luas lahan. Tentu hal ini berarti juga kerja keras bersama untuk menyebarluaskan teknologi perikanan budidaya.

Data statistik juga menjadi bekal kita untuk menaksir tambahan produksi seiring dengan tambahan luas lahan budidaya. Untuk Kabupaten Tulungagung diperoleh angka 108,31 ton per tahun untuk setiap hektarnya.

Saya sebenarnya percaya bahwa target yang luar biasa di atas mungkin saja dicapai, tetapi kita juga perlu mengukur diri seberapa besar kemampuan sumber daya kita, baik untuk meningkatkan produktivitas maupun membuka lahan baru untuk budidaya ikan. Semua itu agar kita tidak juga ditimpa penyakit seseorang yang dirundung malang, yaitu bahwa ia sangat ingin senang secara mendadak, walaupun kesenangannya itu hanya semu, sebatas senang melihat tingginya target produksi.

Pertambahan luas lahan sebagai cerminan investasi baru, sangat dipengaruhi oleh keuntungan yang diharapkan dari usaha budidaya. Selama ini, indikator keuntungan secara sederhana adalah harga jual ikan dan harga pakan.

Tetapi sayang, harga jual ikan cenderung fluktuatif sedangkan harga pakan terus merambat naik. Akibatnya, kita tidak hanya senang ketika seseorang menjadi pembudidaya baru, kita juga bersedih ketika seorang pembudidaya akhirnya menutup usahanya. Oleh karena itu, apabila dua komponen finansial tersebut tidak mampu kita kelola sebagaimana kondisi hingga saat ini, maka tambahan luas lahan hingga puluhan atau ratusan hektar adalah suatu kemustahilan.

Dari uraian di atas, apabila kita tetap dalam keputusan untuk menetapkan target produksi 22,5% per tahun, maka kita tidak hanya perlu memperbaiki kuantitas, kualitas, dan jangkauan kegiatan pembangunan perikanan budidaya, tetapi kita harus merombak total kegiatan-kegiatan tersebut sehingga dampak bagi peningkatan produksi akan terasa.

Dinas Kelautan dan Perikanan juga perlu membuat kebijakan ekonomi perikanan yang memungkinkan pembudidaya mendapatkan harga jual relatif tinggi, termasuk penguatan bargaining possition dalam rantai tata niaga hasil produksi maupun sarana produksi.

Tanpa itu semua, kemampuan untuk mencapai target produksi tersebut sepenuhnya digantungkan pada integritas petugas statistik semata, dimana Faisal Basri menyatakan, “Modal dasar ilmuwan statistik adalah integritas dan kredibilitas. Melakukan sesuatu secara benar dengan cara yang bisa dipercaya dan hasilnya bisa diandalkan, serta diyakini (tak diragukan) oleh khalayak pengguna.”

Kalau integritas dan kredibilitas itupun hilang, maka tanpa perubahan teknis sekalipun target produksi akan tetap tercapai –mungkin malah terlampaui– sehingga yang berlaku adalah pernyataan Benjamin White bahwa seringkali statistik itu bukan masalah perhitungan teknis, tetapi sudah menjadi permasalahan politis.

Bagaimana pendapat Anda?

 

ARIF SUJOKO

Pemerhati kebijakan kelautan dan perikanan

Older Posts »

Kategori