Oleh: opiniperikanan | Oktober 1, 2010

BERITA SEMU KEBERHASILAN BUDIDAYA KERANG MUTIARA

BERITA SEMU KEBERHASILAN BUDIDAYA KERANG MUTIARA

Oleh: Arif Sujoko*)

Kompas 4 Maret 2009 memuat berita “Budidaya Kerang Mutiara Masih Minim”. Salah seorang sumber berita yaitu, Kepala Unit Perbenihan Bali, menjelaskan bahwa bahwa satu unit peralatan budidaya kerang mutiara butuh biaya Rp. 10 – 15 juta.

Biaya ini, masih dalam berita, meliputi long line 100 m, benih kerang 400 ribu ekor, jangkar, kolektor, dan pelampung. Disampaikan pula bahwa benih akan tumbuh 5 – 7 cm atau siap jual dalam kurun waktu 6 – 7 bulan.

Tulisan ini hanya sekedar mengulas apakah angka – angka yang disampaikan tersebut wajar dan menggambarkan usaha skala kecil yang layak untuk kemudian dikembangkan menjadi model pemberdayaan masyarakat.

Informasi pertama yang saya rasa berlebihan adalah waktu pemeliharaan hanya 6 – 7 bulan untuk memperoleh kerang ukuran 5 – 7 cm. Memang kerang ukuran tersebut biasanya laku di pasaran, karena ukuran yang lebih kecil yaitu 3 – 4 cm masih belum aman dari risiko kematian masal yang sampai sekarang belum dapat dipecahkan oleh praktisi budidaya kerang mutiara di Indonesia.

Kalaupun waktu pemeliharaan hanya 6 – 7 bulan ada kemungkinan benih yang digunakan adalah kerang ukuran 3 cm yang dihasilkan dari pemeliharaan benih dari panti pembenihan selama 3 – 5 bulan (rentang waktu pemeliharaan yang tidak lazim di panti pembenihan).

Apakah memang demikian? Kita telaah dulu jumlah benih yang digunakan yaitu 400 ribu ekor. Apabila benih ini ukuran 3 cm maka dalam teknik budidayanya masih menggunakan poket layar. 1 poket layar memuat 110 ekor benih sehingga untuk 400 ribu ekor benih dibutuhkan 3.636 poket layar.

Jika 1 long line paling banyak hanya mampu menampung 33 poket, maka long line yang dibutuhkan adalah 110 long line. Tahukah Anda berapa biaya paling murah untuk 1 unit long line lengkap dengan pelampung dan jangkarnya? Harganya Rp. 3 juta/ long line sehingga untuk 110 long line biaya yang dibutuhkan adalah Rp. 330 juta, lantas biaya long line yang hanya Rp. 10 – 15 juta untuk memelihara 400 ribu ekor benih kerang itu diperoleh dari mana?

Sekarang data mana yang akan kita jadikan dasar, apakah data pemeliharaan yang hanya 6 – 7 bulan – asumsi dengan data ini telah dibantah dalam paragraph di atas – atau berangkat dari data jumlah benih 400 ribu ekor dengan mengabaikan rentang waktu produksi 6 – 7 bulan (artinya: waktu produksi disesuaikan dengan praktik budidaya kerang mutiara yang sudah lazim yaitu 8 – 12 bulan (angka tengah 10 bulan) untuk menghasilkan tiram ukuran 5 – 7 cm.

Benih yang 400 ribu biasanya masih menempel di kolektor ukuran 20 x 30 cm2, 1 kolektor berisi 500 ekor benih tiram (spat), sehingga kolektor yang digunakan sejumlah 800 lembar. Pada pemeliharaan tahap awal, setiap poket berisi 4 kolektor sehingga jumlah poket yang dibutuhkan adalah 200 poket dan jumlah long line sebanyak 6 long line.           Masih ingat harga 1 set long line yang Rp. 3 juta, untuk 6 long line berarti memerlukan biaya Rp. 18 juta. Ini baru biaya long line, belum biaya benih, poket, waring, dan peralatan kerja.

Dari sini rasanya tidak mungkin lagi saya meneruskan perhitungan karena biaya paling murahpun tidak akan di bawah Rp. 15 juta/ long line sebagaimana disebutkan dalam pemberitaan dan jumlah long line untuk 400 ribu ekor benih juga 6 unit.

Hal ini mungkin sederhana, tetapi pernahkan Anda membayangkan jika data – data yang dimuat Kompas dari sumber resmi ini diyakini sebagai kebenaran oleh masyarakat akan pencapaian suatu prestasi fenomenal yang bisa jadi sebenarnya adalah cerita semu belaka.

Lantas, bagaimana dengan harapan untuk menghidupkan minat mengembangkan kerang mutiara (mungkin yang dimaksud dikalangan masyarakat luas dalam skala kecil) sebagaimana isi pemberitaan tersebut?

Harapan itu saya pikir masih ada, tetapi pengembangan budidaya kerang mutiara dalam skala kecil bukan berarti harus disikapi dengan budidaya dalam skala yang sekecil – kecilnya seperti gambaran di atas, yaitu hanya modal Rp. 10 – 15 juta untuk budidaya dengan 1 long line. Kalau hal itu dipaksakan maka budidaya itu tidak akan berkelanjutan sebagai suatu unit bisnis/ unit usaha.

Dalam ilmu ekonomi perusahaan, sudah lazim dikenal istilah ”kapasitas usaha minimal yang masih layak secara finansial (economic of scale) ”. Artinya, setiap usaha memiliki skala kecil tertentu yang masih menghasilkan keuntungan jangka panjang, apabila skala ini tidak terpenuhi (usaha dibuat lebih kecil lagi) maka usaha tersebut tidak layak lagi secara finansial.

Skala ini biasanya akan diikuti dengan besarnya modal, dan batas skala kecil tiap jenis usaha berbeda – beda, begitu juga kebutuhan modal minimumnya.

Dengan kerangka berpikir seperti ini, usaha budidaya kerang mutiara dalam skala kecil masih mungkin dilakukan tetapi bukan kecil dalam artian hanya 1 long line. Analisis yang pernah saya lakukan untuk mendapatkan skala usaha terkecil namun masih sehat secara finansial adalah budidaya menggunakan 3 long line dengan modal yang dibutuhkan adalah Rp. 41,1 juta. Kalau ingin mengetahui lebih jauh tentang hal ini, bacalah leaflet yang dikeluarkan Balai Budidaya Laut Lombok (2006) dengan judul ”Paket Usaha Pendederan Tiram Mutiara (Pincyada maxima) Skala Kecil.

Leaflet itu cukup menggambarkan kondisi riil budidaya kerang mutiara skala kecil dan analisis di dalamnya disusun dengan data yang dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk menguji kebenaran data yang disampaikan, anggap saja semua analisis saya di atas salah dan tidak bisa diterima akal. Sehingga data – data dipemberitaan kita terima semuanya. Dengan demikian, kita konsisten bahwa produksi benih dari pusat perbenihan bali 4 – 6 juta ekor/ bulan.

Karena satuannya adalah perbulan maka uraian ini dipahami bahwa setiap bulan mampu berproduksi, berbeda jika satuannya adalah persiklus produksi yang diartikan bahwa tiap bulan belum tentu berproduksi. Dan dengan asumsi bahwa tingkat hidup adalah 10 – 20 % dari benih sampai panen serta harga jual/ cm adalah 2.000 maka unit perbenihan bali dalam satu tahun akan menghasilkan pendapatan sesuai hitungan di bawah:

Tahun Bulan Produksi Benih (angka tengah) Panen dengan SR 15 % angka tengah PNBP
I 1 5,000,000
2 5,000,000
3 5,000,000
4 5,000,000
5 5,000,000
6 5,000,000
7 5,000,000
8 5,000,000 750000 10,500,000,000
9 5,000,000 750000 10,500,000,000
10 5,000,000 750000 10,500,000,000
11 5,000,000 750000 10,500,000,000
12 5,000,000 750000 10,500,000,000
II 1 5,000,000 750000 10,500,000,000
2 5,000,000 750000 10,500,000,000
3 5,000,000 750000 10,500,000,000
4 5,000,000 750000 10,500,000,000
5 5,000,000 750000 10,500,000,000
6 5,000,000 750000 10,500,000,000
7 5,000,000 750000 10,500,000,000
8 5,000,000 750000 10,500,000,000
9 5,000,000 750000 10,500,000,000
10 5,000,000 750000 10,500,000,000
11 5,000,000 750000 10,500,000,000
12 5,000,000 750000 10,500,000,000

Dari perhitungan di atas maka untuk tahun pertama unit perbenihan bali seharusnya menghasilkan pendapatan negara bukan pajak sebesar Rp. 52,5 milyar untuk tahun I dan Rp. 126 milyar untuk tahun II dan tahun – tahun selanjutnya.

Angka PNBP seperti diatas adalah mustahil untuk sebuah UPT Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, karena realisasi penerimaan PNBP Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya tahun 2008 (mencakup PNBP dari 12 UPT nya) hanya Rp. 4,8 milyar (lihat depkominfo.go.id/2009/02/2003).

Kalaupun tetap dipaksakan bahwa produksi tersebut menghasilkan uang demikian banyaknya, adakah yang bisa menjelaskan berapa pendapatan yang disetorkan ke kas negara sebagai PNBP?

Mungkin dengan permasalahan ini, setiap komentar di media masa perlu didasari kejujuran dan kehati – hatian. Tidak perlu menyampaikan sesuatu yang menunjukkan prestasi, apabila memang tidak mampu mencapainya. Karena kalau berita yang tidak benar ini tanpa diberi koreksi lama – kelamaan ia akan diyakini sebagai prestasi betulan dan ilusi akan dianggap sebagai kenyataan sehingga keberhasilan pembangunanpun hanya sebuah mimpi yang tak pernah tergapai.

Bagaimana pendapat Anda?

*) Sekretaris Koral APS Korwil I, penulis buku Membenihkan Kerang Mutiara


Responses

  1. Saya adalah praktisi pembesaran tiram mutiara (Pinctada maxima), setelah saya membaca tulisan anda “berita semu keberhasilan budidaya kerang mutiara”, saya juga sangat setuju dengan pendapat anda bahwa untuk melakukan budidaya (pembesaran) tiram mutiara tidak mungkin dilakukan dengan modal 10-15 juta rupiah. mengingat budidaya tiram mutiara selain menggunakan longline juga membutuhkan satu unit perahu lengkap dengan mesin tempel, satu unit rumah apung tempat kerja yang bergandengan dengan satu buah rakit tempat menggantung tiram selama proses penanganan (pembersihan, penjarangan dll). selain itu sudah tidak dapat dipungkiri bahwa budidaya tiram mutiara juga membutuhkan poket yang tidak sedikit dengan harga 1 buah poket +/- Rp. 25.000, paling tidak untuk satu longline membutuhkan 200 poket dengan rincian penggunaan adalah 100 poket yang digunakan,sedangkan 100 poket lainnya digunakan sebagai ganti apabila poket yang lama telah kotor dan ditumbuhi berbagai organisme penempel seperti teritip, lumut dll.

    namun ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan sebagai bahan masukan, pada tulisan anda ditulis bahwa asumsi bibit yang digunakan berukuran 3 cm, saya rasa pendapat anda tidak lah tepat karena saya biasa menggunakan bibit yang masih berukuran kecil seperti butiran pasir halus yang melekat pada selembar kolektor dengan ukuran bibit +/- 1 mm, kepadatannya 300-400 ekor per lembar kolektor, harganya sekitar Rp. 75.000 per lembar kolektor. untuk mencapai ukuran 5-7 cm dibutuhkan waktu 7-8 bulan masa pemeliharaan (pertumbuhan dapat berbeda tergantung lokasi). rata-rata pertumbuhan yang saya alami mendekati 1 cm perbulan atau tepatnya +/- 0,7 cm/bulannya. Saya juga heran dengan kepala unit perbenihan jika mengatakan menggunakan 400 ribu ekor atau 800 lembar kolektor. karena saya biasa menggunakan sebanyak 200 kolektor saja apabila ditangani dengan baik (dengan tips khusus tentunya) sudah bisa mengasilkan bibit 5-7 cm sebanyak lebih dari 20 ribu ekor. jika 200 lembar saja bisa menghasilkkan 20 ribu ekor dan menggunakan lebih dari 5 (lima) unit longline. jadi jika menggunakan 800 lembar kolektor apa bisa mengunakan 1 unit longline? atau jangan-jangan mereka belum tahu cara menangani kerang mutiara sehingga banyak yang mati, sehingga hasil panennya masih cukup muat untuk digantung pada satu unit longline.

    hal yang kedua adalah panjang longline yang digunakan adalah 100 m, sama dengan panjang longline yang saya gunakan, biasanya jarak antar tali tempat menggantung poket adalah 1 m, jadi jumlah poket yang dapat digantung adalah 100 buah poket untuk tiap longline. jadi saya rasa dugaan anda bahwa 1 unit longline hanya dapat menggantung 33 poket tidaklah tepat. bahkan dalam kondisi kekurangan longline karena produksi lebih saya pernah memanjangkan tali gantungan sehingga pada bagian bawah poket yang pertama dapat digantungkan 1 buah poket lagi, sehingga dalam satu unit longline saya bisa menggantungkan 200 buah poket.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: