Oleh: opiniperikanan | November 18, 2010

2014, KRISIS IKAN (TIDAK) MENGANCAM

2014, KRISIS IKAN (TIDAK) MENGANCAM

Oleh: Arif Sujoko*)

Judul artikel ini hampir sama dengan judul berita Kompas 15 November 2010, yaitu 2014, Krisis Ikan Mengancam. Tetapi, saya menambahkan kata”(Tidak)” sebagai tanda dari sebuah telaah kritis bahwa kondisinya bisa jadi berbeda dengan isi utama pemberitaan tersebut.

Hari berikutnya 16 November 2010 Kompas menyusulinya dengan berita Dibutuhkan Lembaga Stabilitas Pasokan yang berisikan wacana pembentukan Bulog untuk perikanan sebagai upaya antisipasi ancaman defisit ikan.

Terlepas dari perlu tidaknya membentuk Bulog untuk perikanan, rasanya kurang pas apabila suatu wacana dari petinggi pemerintahan dikeluarkan hanya dikhususkan untuk mengantisipasi “defisit ikan” yang belum tentu benar, tanpa terlebih dahulu meneliti dan mengkaji kebenaran data mengenai defisit ikan.

Seperti halnya masyarakat kebanyakan, rasanya sulit untuk membayangkan kalau Indonesia akan mengalami defisit ikan mengingat negara ini merupakan negara kepulauan dengan laut yang membentang luas dan perairan darat yang sangat potensial untuk memproduksi ikan.

Tetapi, saya juga tidak meniadakan sama sekali kemungkinan terjadinya defisit ini, terutama apabila terjadi salah urus kebijakan kelautan dan perikanan.

Lantas, apakah perhitungan defisit ikan yang dimuat Kompas tersebut merupakan gambaran yang akurat atas kondisi yang akan terjadi pada tahun 2014?

Dalam pemberitaan disebutkan bahwa produksi ikan nasional pada tahun 2014 adalah 22,54 juta ton atau 22.540.000.000 kg, dengan asumsi konsumsi ikan 38,67 kg perkapita pertahun maka kebutuhan ikan nasional adalah 33,68 juta ton atau 33.680.000.000 kg sehingga terjadi defisit ikan 11,15 juta ton.

Dari angka yang diberikan di atas memang kesan defisit sulit untuk dihindari, tetapi kalau diperhatikan lebih mendalam angka kebutuhan 33,68 juta ton tersebut mungkin kurang realistis karena pada angka ini dan dengan konsumsi perkapita 38,67 kg, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2014 adalah 871 juta. Angka inilah yang tidak dituliskan dalam pemberitaan Kompas sehingga samar bagi sebagian besar pembacanya.

Menurut BPS jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 adalah 238 juta, maka untuk menjadi 871 juta pada tahun 2014 apabila dihitung dengan rumus pertumbuhan geometrik dengan compounding factor sebagaimana umumnya perhitungan proyeksi pertumbuhan penduduk akan diperoleh tingkat pertumbuhan penduduk 38 persen pertahun.

Angka 38 persen ini merupakan angka yang kelewat tinggi untuk laju pertumbuhan penduduk pertahun, mengingat antara tahun 1971 sampai dengan 2000 dengan tren menurun, laju pertumbuhan penduduk menurut BPS hanya berkisar 2,31 persen – 1,49 persen pertahun.

Kalau menggunakan data proyeksi versi BPS, ANU dan LDUI maka jumlah penduduk tahun 2014 adalah 245 juta. Dengan asumsi konsumsi ikan perkapita pertahun 38,67 kg, jumlah kebutuhan ikan hanya 9,47 juta ton dan masih jauh di bawah produksi ikan nasional 22,54 juta ton.

Karena itu dengan perhitungan kebutuhan ikan nasional yang sangat kasar ini dapat dipastikan bahwa pada tahun 2014 tidak terjadi defisit ikan apalagi krisis ikan, tetapi dengan catatan data statistik KKP juga menggambarkan data produksi yang akurat dan dapat diandalkan.

Bagaimana pendapat Anda?

*) Sekretaris Koral APS Korwil I


Responses

  1. Amin,
    semoga hal yang disampaikan Pak Arif Sujoko benar adanya. 2014, KRISIS IKAN (TIDAK) MENGANCAM…
    apalagi ditunjang oleh VISI KKP:
    Pembangunan Kelautan dan Perikanan :
    ‎”Indonesia Penghasil Produk Kelautan dan Perikanan Terbesar 2015”‎….

    Maju terus Perikanan INdonesiaku…!!!

  2. semua berbicara pada angka, statistik KKP dalam angka atau DJP2HP dalam angka, DJPT dalam angka, DJPB dalam angka, saya rasa angka2 tersebut kurang dapat diandalkan dan kurang dapat dipertanggungjawabkan keakuratannya. Yang saya tahu semua angka yg tersaji berdasarkan estimasi dan trend kenaikan dari titik angka awal yg juga kurang dapat dipertanggungjawabkan. Yang jelas saya pernah mendengar cerita “ABU NAWAS”, dia bertanya pada anak kecil “apa yg lebih banyak dari bintang di langit…?” anak itu menjawab “ikan di lautan” tahu kenapa..?? karena sampai abu nawas tinggal ceritanya, ikan dilautan tidak pernah habis.

  3. Target Pemerintah dlm Hal ini Target KKP agar Indonesia menjadi penghasil produk perikanan terbesar di dunia pada 2014.
    Sy yakin sumber daya manusia n alam qt mampu mewujudkan itu…
    Air adalah sumber penghidupan… Mari qt bangun perikanan nasional qt.

  4. wacana&perhitungan yg sangat bagus mas,tp saya yakin selama adanya krjasama yg baik,transparansi di kedua belah pihak(pemerintah&pengusaha ikan) itu smua dapat diatasi ^_^ malahan bisa2 kita lebih dr itu

  5. sangat mencengangkan jawaban pak arif ini… padahal digertak lsm gitu aja para petinggi KKP dibuat kalangkabut unt menjawab isu tersebut…wah kyknya sampeyan harus jd penasehat menteri mas hehhehehhehehe

  6. Mas, mungkin sebuah akal2lan untuk mencari kegiatan sehingga APBN bisa dikuras untuk kegiatan yang tidak tepat sasaran, gagasan yang tidak disertai upaya untuk meningkatkan kualitas / vallue added. Dengan dimuat di media, masyarakat dipaksa percya (jeleknya pencitraan) supaya pelan2 bisa direstui untuk menjd Project/kegiatan. ya begitulah evolusi perikanan kita, satu belum selesai bikin acara baru. semoga bangsa ini bisa berbenah diri.
    Salut hebat masih sempet buat Blog….

    • Memang masih banyak yang harus dibenahi, dan saya hanya berharap blog ini menjadi langkah kecil untuk meraih harapan yang tersisa. Mungkin seiring dengan berlalunya waktu, kebenaran itu akan tampak juga.

      Terimakasih, dan mohon dukungannya untuk mengisi blog ini

  7. “Ia (Kepala Pusat Data Statistik dan informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan -ed.op) mengemukakan, kebutuhan ikan konsumsi tahun 2014 diperkirakan 9,5 juta ton, sedangkan pemerintah menargetkan produksi ikan 22,54 juta ton” (Kompas 2 Desember 2010)

    “Dengan asumsi konsumsi ikan perkapita pertahun 38,67 kg, jumlah kebutuhan ikan hanya 9,47 juta ton dan masih jauh di bawah produksi ikan nasional 22,54 juta ton.” (opiniperikanan 18 November 2010)

    Bagi siapapun yang membandingkan dua tulisan tersebut, mungkin akan merasakan kemiripan yang lembut


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: