Oleh: opiniperikanan | Januari 14, 2011

STATISTIK PERIKANAN: EKONOMI BAYANGAN ATAU PRODUKSI YANG KURANG

STATISTIK PERIKANAN:

EKONOMI BAYANGAN ATAU PRODUKSI YANG KURANG

Oleh: Arif Sujoko*)

Cara paling praktis untuk mengukur keberhasilan pembangunan kelautan dan perikanan adalah melihat angka statistik. Angka statistik senantiasa  berkonotasi obyektif, tetapi masih ada juga pihak pesimis yang memandangnya dengan sangat berlawanan dengan pandangan pihak optimis.

Bagi jajaran Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), angka statistik merupakan gambaran keberhasilan pembangunan, terlebih lagi seluruh angka memberikan interpretasi positif. Tetapi, bagi sebagian nelayan dan pembudidaya ikan, angka statistik bisa jadi tidak memiliki arti, kecuali hanya setumpuk kertas. Itupun tidak pernah menggambarkan realitas kehidupan mereka.

Munculnya gejala kontras pemaknaan angka statistik seperti ini sebenarnya bukan hal baru, Benjamin White pernah memperkenalkan istilah ’optimisme tingkat makro’ dan ’pesimisme tingkat mikro’ ketika membahas statistik kemiskinan. Walaupun bicara kemiskinan, sejatinya pendapat White sangat relevan untuk setiap angka statistik yang tidak memiliki kontrol selain kontrol internal.

White menuliskan,”Di Indonesia, setidak – tidaknya sejak tahun 1970–an, telah tampak semacam kejanggalan atau kontradiksi antara analisis dan interpretasi tingkat makro, dan pengamatan dan interpretasi tingkat mikro, tentang dinamika kemiskinan dan ketimpangan. Pada tingkat makro, angka – angka statistik memperlihatkan bahwa proporsi penduduk miskin sedang turun dengan cepat, dan juga bahwa penyebaran penghasilan makin merata; sedangkan kesan dari pengamatan orang ”lapangan” (peneliti, aktivis dan juga orang ”awam” yang banyak sempat mengamati keadaan serta dinamika tingkat mikro) sering justru membawa kita pada kesimpulan yang berbeda. Kontras ini dapat kita sebutkan secara singkat sebagai kontras antara ’optimisme tingkat makro’ dan ’pesimisme tingkat mikro’.”

Parsial atau Integral

Di antara dua kubu yang saling berseberangan, banyak orang memandang angka statistik sekadarnya saja, mengingat penyajiannya sering tidak ramah mata. Kurang menariknya data statistik bisa juga disebabkan cara melihatnya yang parsial. Cara seperti ini tidak bisa menghasilkan hal – hal berharga selain trend kenaikan dalam setiap tabelnya.

Seharusnya statistik dilihat secara utuh melalui analisis intergral terhadap angka statistik perikanan tangkap, perikanan budidaya, dan pengolahan hasil perikanan sehingga memberikan manfaat lebih besar sebagai dasar kebijakan maupun evaluasi pembangunan.

Grafik berikut Grafik Produksi Ikan Budidaya dan Pakan memberikan gambaran yang cukup menarik untuk tahun 2005 – 2009. Data diperoleh dari Statistik Kelautan dan Perikanan Tahun 2008, Kelautan dan Perikanan dalam Angka 2009, www.jpmi.or.id (Sesditjen P2HP: kebutuhan  tepung ikan untuk peternakan : perikanan adalah 80 : 20) dan www.trobos.com untuk rasio tepung ikan dalam pakan ikan 5% (5 – 10%).

Agar tidak salah pengertian, istilah produksi ikan budidaya dalam artikel ini hanya untuk ikan yang mengkonsumsi pakan buatan, yaitu 77,52 % dari produksi udang, patin, lele, nila, dan mas.

Asumsi ini saya buat setelah berdiskusi dengan kawan, dari kalangan birokrasi maupun swasta, serta mempertimbangkan bahwa intensifikasi bukan hal baru, setidaknya dalam Himpunan Pokok – Pokok Kebidjaksanaan Direktorat Djenderal Perikanan Tahun 1969 – 1971, intensifikasi sudah menjadi kebijakan pembangunan perikanan. Selain itu, pada periode tersebut program penggunaan pakan buatan mendapat dukungan besar melalui Dana Penguatan Modal, Subsidi Benih Ikan, dan Bantuan Wirausaha Pemula Perikanan Budidaya.

Terlihat di grafik jumlah tepung ikan, dari impor maupun perikanan tangkap, memiliki kecenderungan menurun, sebaliknya produksi ikan budidaya terus naik dengan volume yang sangat besar. Secara sekilas, hal ini adalah kejadian yang langka, kalaupun benar diperlukan penjelasan, apa yang menyebabkan produksi ikan budidaya begitu hebat dengan rasio konversi pakan (FCR) sangat kecil berkisar antara 0,21 – 0,63? Padahal melihat hasil Seminar Pencarian Strategi Pencapaian Target Peningkatan Produksi 20% yang diselenggarakan pada 24 Mei 2007, FCR budidaya adalah 1,25 – 1,5.

Ekonomi Bayangan atau Rendahnya Produksi?

Karena grafik di atas menunjukkan kondisi yang paradoksal, maka dibutuhkan analisis lain untuk menduga kondisi yang lebih akurat dari produksi ikan budidaya dan suplay tepung ikan.

Analisis pertama, angka produksi ikan budidaya kita yakini kebenarannya sehingga dengan asumsi FCR 1,2, kebutuhan tepung ikan seharusnya mengikuti trend kenaikan produksi ikan budidaya.

Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, menurut statistik pengolahan, suplay tepung ikan cenderung menurun. Dengan demikian patut diduga bahwa statistik tepung ikan merupakan angka under estimate. Kondisi suplay tepung ikan yang berbeda ini ditunjukkan dalam grafik berikut. Grafik Kebutuhan Tepung Ikan

Apabila analisis ini benar, maka kita patut waspada karena dalam suplay tepung ikan terindikasi adanya ekonomi bayangan, yaitu suatu aktivitas ekonomi yang tidak tercatat dalam statistik resmi (Rochman, 2010).

Kondisi ini tentu memerlukan perhatian serius khususnya dari instansi yang menangani impor, mengingat gejala ekonomi bayangan justru menjadi penopang kegiatan ekonomi formal, yaitu pabrik pakan. Terlebih lagi skala ekonomi bayangannya sangat tinggi yaitu 197% dengan nilai rata – rata per tahun mencapai 22.622.986 USD.

Analisis kedua mengasumsikan tidak adanya ekonomi bayangan sehingga angka tepung ikan dianggap sebagai data yang benar. Oleh karena itu, dengan asumsi yang sama, data produksi ikan budidaya seharusnya memiliki trend yang mirip dengan naik turunnya volume tepung ikan. Tetapi, trend dalam statistik sangat berbeda karena kecenderungannya adalah kenaikan terus – menerus termasuk pada saat suplay tepung ikan turun.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa tingginya produksi ikan budidaya bisa jadi merupakan angka over estimate yang menggambarkan situasi kontras dengan kenyataan. Perbedaan produksi ikan budidaya dari kedua keadaan ini ditampilkan dalam grafik berikut. Grafik Produksi Ikan Budidaya

Kalau kondisi kedua yang terjadi, maka visi KKP menjadikan Indonesia sebagai produsen ikan terbesar relatif semakin berat karena titik tolak target produksi merupakan angka yang jauh lebih kecil.

Potret 2010

Dalam website Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dituliskan ”Perikanan budidaya menutup tahun 2010 dengan pencapaian angka sementara produksi tahun 2010 sekitar 5,48 juta ton”.

Kalau angka ini dirinci lagi, maka produksi ikan budidaya adalah 1,56 juta ton. Dengan analisis yang sama grafik berikut Grafik Produksi Ikan Budidaya dan Pakan Ikan 2010 menunjukkan perbandingan pakan ikan didasarkan pada suplay tepung ikan dan produksi ikan budidaya.

Patut disyukuri kinerja 2010 menunjukkan peningkatan produksi ikan budidaya. Dari sisi suplay tepung ikanpun, volumenya menunjukkan yang tertinggi dalam 6 tahun terakhir. Tetapi, apakah peningkatan produksi tersebut demikian besar? Jawabannya kembali kepada analisis mengenai ekonomi bayangan dan produksi yang masih kurang.

Meskipun sama – sama memberikan gambaran yang unfavourable, sejatinya kedua analisis di atas lebih sebagai upaya kehati – hatian untuk melihat secara jernih kondisi sektor perikanan, sehingga segala sesuatu terlihat sebagaimana adanya dan terkadang berbeda dengan yang kita inginkan. Sikap untuk berani menghadapi kenyataan seperti inilah yang perlu kita tumbuhkan dalam setiap strategi pembangunan.

Memang analisis di atas masih menggunakan beberapa asumsi untuk mendampingi statistik resmi, tetapi asumsi tersebut sangat rasional. Adapun peluang ketidakbenaran tetap ada, mengingat data yang dianalisis merupakan data yang sifatnya global.

Lagi pula analisis ini bukan dimaksudkan untuk menyajikan kenyataan. Ibarat orang makan buah, analisis ini hanya memperlihatkan daging buah dengan mengupas kulitnya saja, sedangkan kualitas dan rasa buah itu, manis atau asam, hanya diketahui pemilik yang mengkonsumsinya.

Bagaimana pendapat Anda?

*) Anggota Koral APS


Responses

  1. ada beberapa kemungkinan,
    pertama, ada informasi dari teman-teman di lapangan bahwa adanya kegiatan impor tepung ikan dikarenakan alasan harga lebih murah, kualitas, kuantitas dan kontinuitas lebih terjamin.
    kedua, adanya produksi pakan buatan skala rumah tangga yang memanfaatkan ikan kering, bukan tepung ikan sebagai bahan baku.
    ketiga, banyak pembudidaya kembali menerapkan teknologi budidaya ikan tradisional yang cukup memanfaatkan pakan alami yang ada di wadah budidaya sehingga tidak memerlukan pakan tambahan (pakan dengan bahan baku tepung ikan)
    Jadi kemungkinan pertama dan kedua bisa menyebabkan statistik tepung ikan saat ini merupakan angka under estimate, sedangkan kemungkinan ketiga merupakan jawaban bahwa tidak ada masalah dengan statistik tepung ikan maupun grafik produksi ikan budidaya dan pakan.

    • Terima kasih atas tanggapannya. Untuk kemungkinan pertama mungkin perlu penjelasan lebih lanjut karena kurang bisa menjawab apakah benar angka impor tersebut under estimate. Untuk kemungkinan kedua dan ketiga, tanggapan saya sebagai berikut:
      1. Angka suplay tepung ikan yang saya gunakan merupakan angka suplay tepung ikan dari impor dan dari pengolahan hasil penangkapan ikan dalam negeri (bisa dilihat dibuku statistik KKP), jadi ikan – ikan yang dijadikan tepung di dalam negeri kemudian digunakan sebagai pakan ikan sudah termasuk dalam hitungan, demikian juga istilah pakan buatan yang saya maksud bukan hanya pakan buatan dari pabrik, tetapi juga pakan buatan yang dibuat sendiri oleh pembudidaya
      2. Mengenai pembudidaya yang menggunakan pakan alami, kalau Saudara mencermati artikel saya sesungguhnya yang saya maksud dari “produksi ikan budidaya” adalah “produksi ikan yang mengkonsumsi pakan buatan saja” bukan keseluruhan ikan budidaya. Dengan demikian saya sudah mengeluarkan hasil dari budidaya tradisional “non pakan buatan” sebesar 25 % produksi udang, nila, dan mas dan 10 % produksi lele dan patin (asumsi). Tentu Saudara mengetahui juga dalam pembesaran kerapu, kakap dan bandeng pakan buatan juga digunakan, tetapi ketiga komoditas ini 100 % saya asumsikan tanpa pakan buatan, demikian juga gurame dan ikan lainnya. Dengan semua pertimbangan yang saya sampaikan, sebenarnya angka produksi ikan budidaya yang saya gunakan adalah angka optimis, bukan angka pesimis.

  2. Tulisan di atas dibuat sebelum data resmi dipublikasikan, sehingga sebagian besar data tahun 2010 adalah asumsi. Tetapi, ketika Buku Kelautan dan Perikanan dalam Angka Tahun 2010 dipublikasikan, koreksi terhadap hasil analisis bukan menghasilkan interpretasi yang optimis, justru yang ada adalah interpretasi yang cenderung pesimis.Hal ini disebabkan, dalam buku tersebut impor tepung ikan 2010 ternyata hanya 57.010 ton, jauh lebih rendah dari asumsi semula, yaitu 109.370 ton.

  3. Saya baru menemukan tulisan Bapak. Kegundahan Bapak adalah kegundahan saya juga. Produksi dan Nilai Produksi Perikanan budidaya yang setiap tahunnya dipaksakan naik pada saatnya nanti akan menjadi boomerang, mengapa ? Karena produksi produksi dan nilai produksi yang terus-terusan di mark up tiap tahunnya bererti akan semakin jauh dari realitas di lapangan. Contoh yang paling nyata ketika di akhir tahun 90-an produksi udang windu yang saat itu menjadi komoditas primadona hancur lebur hampir di seluruh sentra produksi tapi anehnya kok data statistik menyajikan terus terjadi kenaikan produksi budidaya. Angkanya dari mana ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: