Oleh: opiniperikanan | Juli 6, 2011

HARAPAN YANG MASIH TERSISA

HARAPAN YANG MASIH TERSISA

 

Dalam suatu tidur yang cukup panjang, mimpi itu datang. Mimpi tentang percakapan hidup antara saya dengan seorang yang cukup tua. Tidak jelas siapa dia, apakah kakek saya yang memang belum pernah saya lihat, atau seorang cendekia di masa kejayaan nusantara. Tetapi kalau melihat pengetahuan dan ilmunya, pantas juga orang tua tersebut sebagai orang terpelajar dari masa depan. Meskipun tidak jelas siapa dan darimana asalnya, yang pasti ia adalah sosok yang bijaksana.

Percakapan itu sendiri tidak berlangsung di alam terbuka, tidak juga di meja kuliah atau hotel berbintang lima. Hanya ada warna gelap disekelilingnya, sosok kami berdua terlihat seperti lentera kecil yang menyala, ditengah gulita alam semesta.

Isi dari percakapan itu, tidak semua saya ingat, hanya sepenggal bagian yang akan tertulis ini yang mampu bersemayam di otak, ya percakapan antara saya (AS) dan orang tua bijaksana (OT) tentang perjalanan hidup, sebuah perjuangan bukan untuk menang, tetapi untuk kalah dan sebatas mengisi catatan sejarah…

OT: Nak, kamu belum sempat cerita, mengapa kamu meninggalkan jalan leluhurmu sebagai pengusaha dan memilih masuk dalam birokrasi yang mengurusi negara? Tidakkah kamu tahu, di negara ini jangan pernah membayangkan birokrasi itu sebagai organisasi modern dengan dukungan ilmu manajemen, birokrasi hanyalah kelanjutan hidup raja-raja nusantara yang dipenuhi masyarakat berkasta. Kalau dulu keturunan yang menjadi sumber penghargaan, sekarang orang dihargai hanya dari gelar yang melekat pada dirinya bukan dari pikiran dan kemampuannya. Tidakkah kamu sadar, dengan kondisimu yang nyaris tanpa gelar, kamu tidak akan bisa melakukan apa-apa dalam birokrasi itu?

AS: Apa yang Bapak sampaikan tentang birokrasi memang benar, orang berlomba-lomba untuk mempunyai gelar karena dengan gelarlah dia akan merangkak meningkatkan kedudukannya, tidak peduli apakah gelar itu sesuai dengan kemampuannya atau hanya tempelan belaka. Saya sendiri masuk kedalam lingkungan birokrasi hanya bermimpi hidup ini bisa bermanfaat untuk masyarakat sekaligus bercita-cita menjadi negarawan karena birokrasi yang dihuni negarawan memegang peran vital untuk membangun masyarakat. Mungkin cita-cita saya adalah sesuatu yang abstrak, mengingat persepsi masyarakat tentang birokrasi adalah korupsi, malas, dan mempersulit diri.

OT: Cita-citamu memang bagus, dan semua orang patut bercita-cita setinggi-tingginya. Bukankah orang yang mencoba memanah bintang dilangit, meskipun gagal anak panahnya tetap lebih tinggi daripada orang yang memanah sesuatu yang sejajar dengan dirinya? Yang aku belum mengerti, dengan kedudukanmu yang rendah apa kontribusimu bagi birokrasi dan masyarakat?

AS: Bapak sudah paham mengenai orang-orang berlomba mendapatkan gelar karena mengejar jabatan. Orang-orang seperti ini rasa-rasanya sangat banyak. Meskipun tidak memiliki kemampuan, mereka akan dipercaya memegang jabatan. Tetapi toh yang benar-benar bekerja adalah orang rendahan seperti saya.

OT: Bagaimana itu bisa terjadi? Apakah suatu jabatan tidak mensyaratkan suatu kemampuan selain gelar sehingga seseorang bisa menjabat tanpa bisa bekerja?

AS: Sebelumya Bapak sendiri yang mengatakan bahwa birokrasi bukan organisasi modern dan hanya organisasi modern yang mensyaratkan sebuah kemampuan. Sementara di Indonesia, seorang pejabat ketika menemukan suatu permasalahan cukup mengambil kertas yang disebut disposisi dan menulisinya dengan kata ”Apa?”, pejabat di bawahnya yang menerima disposisi tersebut tidak kurang bingungnya kemudian menyerahkan kepada pejabat yang lebih bawah dan terlebih dahulu menambahi dengan tulisan”Ini apa?”. Yang menerima kembali tidak mengeri apa permasalahan yang dilempar oleh atasannya kemudian langsung saja ia menuliskan ”Apa ini?” dan menyerahkan kepada staf, seorang pegawai dengan gelar terendah bahkan sebagian nyaris tanpa gelar. Si staf inilah yang kemudian berpikir keras untuk menyelesaikan masalah tersebut. Pemikiran yang seharusnya dilakukan oleh atasannya beralih menjadi beban kerjanya. Paling-paling karena jengkelnya si staf kemudian turut menulisi disposisi dengan kata ”Apa-apaan ini”  bukan untuk diserahkan kepada siapa-siapa karena tidak ada yang bisa menerimanya, tetapi sebagai bentuk protes atas ketidakmampuan orang-orang bergelar yang berada di atasnya. Inilah gambaran bagaimana birokrasi kita bekerja, sebuah pemerintahan yang dipikirkan oleh staf bukan oleh pemimpinnya.

OT : Kamu yang masih punya pribadi anakku, janganlah nanti bertingkah seperti mereka. Bukankah semua gelar sarjana yang meraka sandang adalah petunjuk bahwa mereka adalah ilmuwan, makhluk paling rasional dikalangan manusia, dengan gelar lebih tinggi lagi mereka adalah seorang pemikir, pendidik, dan pengajar.

AS : Akan saya usahakan untuk selalu memiliki hati dan kepribadian Bapak, karena manusia tanpa hati dan kepribadian hanyalah sebuah mesin yang dibalut dengan daging dan darah. Tidak beda dengan robot, hanya saja dia makan dan minum.

OT : Seperti katamu tadi, masyarakat mempersepsikan bahwa birokrasi adalah korupsi. Pernah ku dengar juga kamu menentang korupsi. Bagaimana hasil usahamu?

AS : Salah satu pilihan saya ketika masuk ke birokrasi adalah menjadi auditor, karena menurut saya auditor lah yang punya kemampuan besar untuk mengurai benang kusut korupsi. Tetapi jalan hidup memutuskan lain, saya hanya pegawai  biasa bukan auditor, saya tidak menyesal terlebih ketika kemudian hari saya mengetahui bahwa auditor juga manusia biasa, ketika nilai kehidupan tercerabut dari dirinya, bukan berkurangnya korupsi yang terjadi, yang ada adalah kelanggengen korupsi dan kebusukan aparat pengawasnya.

Tidak menjadi auditor, bukan alasan untuk tidak memerangi korupsi, suatu kejahatan kemanusiaan yang mengorbankan banyak manusia tetapi pelakunya menjadi terhormat dalam sistem kemasyarakatan Indonesia. Berjuanglah saya dengan semangat muda yang menggelora, semakin banyak simpati dari rekan semua. Hingga suatu saat karang besar menghadang, tidak hanya kuat tetapi kokoh juga. Korupsi memang sudah menjadi sistem sosial sendiri, pelaku-pelakunya tidak lagi dihubungkan dengan jaring-jaring persatuan, bahkan sudah dilekatkan sehingga mustahil pudar.

Seperti ombak yang menerjang karang, baik karang tersebut bisa hancur maupun tetap kokoh, nasib ombak tersebut tidak sama ada yang kemudian terpecah dan melompat di atas karang tetapi sebagian besar kembali ke lautan. Namun, perjuangan melawan korupsi berbeda dengan nasib ombak tersebut, baik berhasil maupun gagal, para pelakunya sebagian besar akan memperoleh kenikmatan dan hanya sebagian kecil yang justru terpental, saya termasuk orang yang terpental. Tetapi saya sadar dengan penuh, kerja seperti ini bukan kerja untuk mendapatkan penghargaan apalagi jabatan, kerja melawan korupsi adalah kerja untuk kemanusiaan yang pelakunya selalu dalam kesendirian.

OT : Dengan kegagalanmu tersebut, masihkah kamu berharap birokrasi dapat lepas dari cengkeraman korupsi? Saya sendiri berpikir hal ini nyaris tidak mungkin, banyak kepentingan dan problem sosial dalam lingkungan birokrasi yang menguatkan praktik korupsi, belum lagi keserakahan manusia untuk menguasai semuanya. Lingkungan masyarakat kita tidak sedikit pula kontribusinya dalam merangsang pegawai untuk korupsi. Masyarakat kita meskipun terlihat modern, tetapi pada dasarnya adalah masyarakat terbelakang yang memberikan penghargaan tertinggi kepada kekayaan. Tidakkah kamu pahami bahwa ciri masyarakat berperadaban tinggi adalah penghormatan kepada karya pikiran dan kemanusiaan. Kondisi inilah yang kemudian merangsang para pegawai dari yang terendah sampai yang tertinggi untuk kaya dan menumpuk harta melalui korupsi di birokrasi. Melihat kondisi seperti ini, kalau sudah tidak mungkin berjuang membersihkan birokrasi, masih adakah harapan tersisa dalam dirimu?

AS : Tentu masih ada Bapak, sejauh pengamatan saya ternyata selain tercengkeram korupsi, birokrasi juga bekerja tanpa tujuan yang nyata, tanpa strategi yang terlihat tahap-tahap untuk mensejahterakan masyarakat. Yang ada hanya kegiatan-kegiatan insidentil reaktif terhadap suatu masalah. Bukankah pembangunan adalah kegiatan dengan strategi yang matang? Dalam kondisi yang seperti ini, saya berusaha untuk memberikan pandangan-pandangan teoritis terhadap suatu strategi pembangunan, suatu pandangan strategi yang memiliki ideologi, bukan strategi yang kosong dari nilai.

Saya usahakan untuk selalu mengkaji setiap permasalahan dan saya tuangkan ke dalam tulisan sambil mengharapkan para pemegang gelar doktor, master dan sarjana dikalangan penguasa juga memberikan ulasannya. Tradisi kaum cendekia inilah yang saya coba terapkan dalam memperbaiki pembangunan, sebuah panggilan pribadi dan nurani.

OT : Apakah kamu yakin dapat berhasil dengan tulisan-tulisanmu itu?

AS : Justru saya yakin hal ini tidak akan mengubah apa-apa. Sudah banyak orang-orang yang lebih hebat dari saya dan dengan tulisan yang lebih berbobot dari tulisan saya, tetapi hampir tidak ada pengaruhnya. Karena kesadaran tersebut, panggilan hati ini hanya saya tempatkan sebagai catatan sejarah saja. Sambil berharap suatu saat akan muncul orang-orang luhur, sosok negarawan berotak cendekia, dan berhati mulia yang akan mengubah negara.

(Setelah bagian ini saya tidak begitu ingat kelanjutan percakapan dalam mimpi, hanya saja sebelum mimpi ini berakhir orang tua itu berkata …)

OT : Anakku, kamu itu kan pegawai, bagaimana dengan pekerjaanmu kalau kamu melakukan hal-hal itu?

AS : Dalam memandang pekerjaan, saya selalu posisikan di tempat prioritas, selama ini saya sanggup menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan sepertinya belum pernah mengecewakan seseorang dalam pekerjaan. Adapun aktivitas selebihnya adalah aktivitas saya sebagai pribadi yang berusaha peduli dengan nasib bangsa ini.

Diselesaikan di Jakarta, 6 Juli 2011

Arif Sujoko


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: