Oleh: opiniperikanan | Maret 15, 2012

Nelayan Kecil Tulungagung: Sebuah Skenario Masa Depan?

Nelayan Kecil Tulungagung: Sebuah Skenario Masa Depan?

OLEH: ARIF SUJOKO

“Ketika asumsi tentang melimpahnya sumberdaya itu keliru,

maka mimpi indah tentang nelayan yang sejahtera segera berubah

menjadi kenyataan buruk yang rasanya tidak seorangpun siap menanggungnya”

(Pujo Semedi H. Juwono)

 

Tidak banyak ulasan mengenai masalah nelayan kecil, kecuali senantiasa hanya menjadi penyumbang data bagi statistik kemiskinan. Permasalahan nelayan kecil sejatinya merupakan tanggung jawab penuh dari pemerintah daerah kabupaten/ kota karena kebanyakan mereka adalah nelayan yang beroperasi di perairan pantai, kalaupun memaksakan ke tengah, perahu mereka yang rata-rata bertonase 2 gross tonnage sudah mengkhawatirkan digunakan di perairan lepas pantai, apalagi untuk menjangkau laut lepas.

Karena itu sudah semestinya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) menaruh perhatian utama kepada nelayan kecil, bukan nelayan yang sudah mampu mengarungi samudera. Terlebih lagi nelayan kecil seringkali menjadi bagian masyarakat miskin yang menduduki lapisan terbawah dari kelompok masyarakat dalam golongan pendapatan.

Prioritas pembangunan seperti ini sejalan dengan konsep pembangunan yang dikembangkan oleh dua tokoh ekonomi pembangunan, Ahluwalia dan Chenery, dimana dalam konteks pembangunan subsektor perikanan tangkap, keberhasilan pembangunan bukan lagi dimonopoli oleh peningkatan angka hasil tangkapan yang kemudian dianggap menjadi prestasi dalam statistik perikanan, tetapi suatu pembangunan dianggap berhasil jika lapisan terbawah dari masyarakatnya mengalami peningkatan pendapatan.

Untuk itu perlu evaluasi mendalam tentang bagaimana kondisi nelayan dan sumber daya ikan di perairan yang menjadi ladang nafkahnya. Karena tanpa mengetahui keduanya, bisa jadi pemerintah tidak mampu mengungkap akar permasalahan sehingga yang terlihat sampai saat ini hanyalah kemiskinan nelayan yang seolah tidak mungkin dihapuskan meskipun berbagai program sudah dilaksanakan.

 

Kondisi Sumber Daya Ikan: Dulu dan Sekarang

Dalam website resmi DKP Kabupaten Tulungagung dinyatakan bahwa potensi sumber daya ikan Tulungagung mencapai 25.000 ton/ tahun, dari potensi ini yang boleh ditangkap tanpa mengganggu kelestarian sumber daya itu sendiri mencapai 12.500 ton/ tahun. Adapun yang telah dimanfaatkan baru 15-26%. Artinya, untuk mensejahterakan nelayan masih terbuka peluang peningkatan upaya penangkapan ikan.

Apakah potensi perairan laut Tulungagung memang begitu besarnya? Sulit untuk memastikan tanpa terlebih dahulu mengetahui kuantitas dan kualitas data yang dianalisis. Hanya saja secara umum menduga potensi perikanan di Indonesia dengan kondisi miskin data bukan pekerjaan mudah, bahkan kondisi ini diakui oleh salah seorang anggota Komisi Nasional Pengkajian Sumber Daya Ikan yang kebetulan pernah menjadi dosen pembimbing saya. Oleh karena itu, sangat serampangan dengan hanya melihat produksi tahunan yang masih sedikit kemudian disimpulkan bahwa pemanfaatan sumber daya ikan masih rendah atau under fishing, karena rendahnya hasil tangkapan juga bisa berarti sebaliknya, yaitu tingkat pemanfaatan sudah pada taraf berlebihan yang dikenal sebagai over fishing.

Meskipun statistik menunjukkan bahwa potensi perikanan Tulungagung masih sangat melimpah, akan tetapi realita di lapangan menunjukkan gejala paradoks –semoga ini tidak menjadi bagian dari statistik Indonesia yang dalam buku The Secret History of The American Empire: Economic Hit Men, Jakals, and the Truth about Global Corruption disebut sebagai tempat dengan statistik bagus, tetapi realitanya sangat buruk.

Sebagai contoh kasus, misalnya potensi sumberdaya ikan di perairan Pantai Popoh, Sidem dan Klatak. Sungguh berat untuk mengatakan bahwa potensi sumber daya ikan di pantai tersebut masih sangat banyak. Data resmi memang tidak tersedia, tetapi dari beberapa indikasi rasanya jumlah sumberdaya ikan di perairan pantai tersebut tidak sebanyak yang dibayangkan dan jelas-jelas telah terjadi degradasi dibanding tahun 70-an.

Wawancara dengan salah seorang yang menghabiskan hampir seluruh karirnya di wilayah pantai tersebut menunjukkan kebenaran indikasi ini, gejala itu antara lain:

  1. Penurunan stok ikan di perairan pantai yang ditunjukkan oleh semakin panjangnya penyebaran jaring tarik (pukat pantai) dengan hasil yang semakin berkurang, demikian juga waktu tempuh pelayaran ke daerah penangkapan ikan yang semakin bertambah lama karena lokasi penangkapan terus menjauh dari pantai
  2. Jumlah ikan besar –ikan tua- yang tertangkap relatif sedikit yang menurut Spare dan Vennema –dua orang ahli stock assesment FAO- merupakan gejala over fishing
  3. Kehadiran ubur-ubur yang sudah menyapa perairan Tulungagung dalam dua tahun terakhir merupakan gejala over fishing juga, karena sebagaimana dikatakan Nikijulluw bahwa melimpahnya ubur-ubur merupakan indikator bahwa pemangsanya, yaitu ikan yang lebih tinggi derajatnya  dalam rantai makanan telah berkurang.

Meskipun indikator tadi hanya bersifat kualitatif, tetapi sebagai bahan hipotesis mampu menerangkan dengan baik akan adanya gejala sumber daya ikan di perairan pantai yang sudah jauh berkurang, entah disebabkan intensifnya penangkapan ikan di masa lampau atau kerusakan lingkungan pantai sehingga tidak lagi nyaman sebagai habitat ikan. Hipotesis ini akan lebih meyakinkan apabila kita melihat hasil tangkapan yang dinilai dalam pendapatan rata-rata nelayan.

 

Pendapatan Rata-rata dan Beban Hidup

Dengan kondisi sumber daya ikan yang terindikasi mengalami degradasi, hampir semua nelayan di Pantai Klatak hanya memiliki pendapatan rata-rata Rp. 350 ribu per bulan. Angka ini hanya 49% dari Upah Minimum Kabupaten Tulungagung tahun 2011.

Pendapatan yang begitu rendah mengakibatkan beban hidup nelayan kecil ini jauh lebih berat apalagi pendapatan tersebut digunakan untuk menopang kehidupan keluarga yang rata-rata terdiri dari 4 orang sehingga pendapatan per kapita per bulan hanya Rp. 87,5 ribu. Kalau kondisi ini tidak tertangani dengan baik maka masyarakat nelayan kecil selamanya akan terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan justru ditengah sumber daya perikanan yang secara resmi dinyatakan melimpah.

 

Skenario Masa Depan

Setelah mengenali kondisi sumber daya perikanan dan status pendapatan nelayan ini. Apakah kita sudah memiliki skenario masa depan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan? Banyak pengambil kebijakan karena menggunakan asumsi besarnya potensi sumber daya ikan dan hasil tangkap nelayan yang masih sedikit memberikan resep generik berupa peningkatan upaya penangkapan, baik melalui motorisasi perahu maupun perbaikan alat tangkap.

Tetapi dengan sumber daya yang terindikasi mengalami degradasi, kebijakan peningkatan upaya penangkapan malah akan berakibat fatal karena kebijakan ini hanya akan mempercepat pengurasan sumber daya ikan yang ujung-ujungnya semakin memiskinkan nelayan.

Oleh karena itu, disamping menjadikan nelayan kecil sebagai sasaran prioritas pembangunan, program pembangunanpun harus sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan nelayan. Untuk itu ada beberapa kegiatan yang dapat dilakukan:

  1. Melakukan kajian stok ikan secara benar dengan menyediakan informasi yang terpercaya atas dasar pertimbangan profesional, ilmiah dan etika sebagaimana prinsip dasar kedua dari statistik resmi yang diakui oleh Komisi Statistik PBB.
  2. Memberikan subsidi untuk memenuhi kebutuhan dasar nelayan kecil, khususnya di musim paceklik penangkapan ikan.
  3. Menyiapkan peluang kerja alternatif bagi nelayan kecil, hal ini tidak terbatas pada pelatihan kerja saja tetapi pemberian kesempatan berusaha secara menyeluruh kepada nelayan untuk mengelola sumber daya lain di wilayahnya selain sumber daya perikanan tangkap.
  4. Memulihkan sumber daya perikanan pantai dengan kebijakan perbaikan lingkungan maupun kebijakan penghentian penangkapan ikan di wilayah tertentu setelah nelayan memiliki alternatif penghasilan.
  5. Setelah kondisi sumber daya ikan dapat dipulihkan, menerapkan pengaturan yang tepat dalam upaya penangkapannya melalui berbagai kebijakan dan pengendalian.

Alternatif solusi di atas tidak hanya berdimensi saat ini, tetapi juga berdimensi masa depan dimana kehadiran nelayan kecil yang beroperasi di perairan pantai merupakan pekerjaan yang cukup efisien ditengah trend kenaikan harga BBM, khususnya bagi masyarakat kecil yang tidak memiliki kemampuan modal, kecuali tenaga yang seolah tanpa batas untuk dimanfaatkan.

Bagaimana pendapat Anda?

Arif Sujoko

Pemerhati kebijakan kelautan dan perikanan

Sumber: Surat kabar “KORAN” Edisi 8/ 2-9 Maret 2012 dengan sedikit perubahan


Responses

  1. Di negara jepang pekerjaan nelayan merupakan pekerjaan yang istimewa dan pekerjaan yang di pandang sebagai pekerjaan yang pendapatan hasilnya sangat besar sekali,di negara Jepang nelayan termasuk golongan orang-orang yang bekehidupan menengah ke atas,justru di negara kita Indonesia nelayan merupakan pekerjaan yang di pandang hanya sebelah mata,banyak nelayan di Indonesia yang penghasilannya di bawah rata-rata,selain itu peran pemerintah pusat sangat kurang,pemerintah sebenarnya kunci dari kemajuan dan keberhasilan nelayan di negara Jepang adalah : nelayan di Jepang memiliki etos kerja yang tidak pernah menyerah dalam perjuangan mencari hasil laut,dan pemerintahan di Jepang sangat mendukung dan menghargai pekerjaan sebagai nelayan, managemen pemasaran nelayan di jepang juga sangat baik.sebetulnya di Indonesia nelayan bisa lebih maju tidak kalah di bandingkan dengan nelayan di negara Jepang, asal nelayan harus memiliki etos kerja,dan management pemasaran hasil tangkapan ikan yang perlu di perbaruhi🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: