Oleh: opiniperikanan | Juli 4, 2012

Statistik Perbenihan: Mengapa Harus Mulai dari Awal?

Statistik Perbenihan: Mengapa Harus Mulai dari Awal?

OLEH: ARIF SUJOKO

Sekitar dua tahun yang lalu, statistik perbenihan “resmi bercerai” dengan statistik perikanan budidaya. Bukan bercerai dalam artian bahwa statistik perbenihan tidak lagi menjadi bagian dari statistik perikanan budidaya, tetapi lebih kepada kewenangan organisasi. Sebelumnya semua statistik perikanan budidaya yang meliputi statistik pembesaran ikan konsumsi, budidaya ikan hias dan perbenihan merupakan kewenangan Direktorat Produksi Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB). Saat ini kewenangan Direktorat Produksi dipangkas sehingga hanya dua dari tiga jenis statistik pertama yang diselenggarakan, sedangkan statistik benih beralih menjadi kewenangan Direktorat Perbenihan.

Saya tidak tahu persis apa latar belakang pengalihan kewenangan tersebut, tetapi dari sebagian sumber informasi yang saya terima terungkap bahwa statistik perbenihan yang dikelola Direktorat Produksi dirasa belum mampu menjawab kebutuhan informasi perbenihan.

Tampaknya karena itu pula Direktorat Perbenihan kemudian membuat perangkat perstatistikan sendiri yang 100% berbeda modelnya dengan perangkat pengambilan maupun pengolahan data versi “lama”. Kalau dipelajari beberapa petunjuk pengisian form statistik benih versi baru ini, kita dapat menginterpretasikan bahwa form versi baru ini digunakan sebagai perangkat sensus perbenihan dan dilaporkan setiap bulan.

Penekanan pada metode sensus melalui pengambilan data dari seluruh pembenih ikan ini dianggap dapat memenuhi kebutuhan data statistik perbenihan yang tidak dapat dipenuhi dari metode survai tiga bulanan. Hal yang sama ditegaskan pula oleh salah seorang Pejabat Eselon Empat di Direktorat Perbenihan dalam suatu kesempatan diskusi dengan saya.

Apakah kemudian penerapan metode sensus perbenihan setiap bulan ini mampu menghasilkan data statistik yang dapat bermanfaat optimal dan lebih tepat dibanding dengan statistik perbenihan versi lama? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu menelaah faktor penyebab statistik perbenihan versi lama dianggap menghasilkan data yang bias dari kondisi nyata.

Dalam artikel Statistik Perikanan Budidaya yang Bisa Dipercaya, saya berkesimpulan bahwa faktor penyebab tersebut bukanlah metodologi statistik karena metode yang digunakan sebenarnya sudah valid. Tetapi, penyebabnya adalah tidak tersedianya sumber daya perstatistikan –dalam arti luas– sesuai kebutuhan dan konflik kepentingan terhadap angka produksi yang rentan menyebabkan ketidak jujuran sumber daya manusia (SDM) perstatistikan, khususnya pengolah maupun pejabat yang mengesahkan.

Kalau penyebabnya bukan dari sisi metodologi, tetapi lebih dari sisi praktik dan penerapannya. Penggunaan metodologi lama melalui survai perbenihan masih layak digunakan. Mengganti survai dengan sensus sekalipun, tanpa memperbaiki dan mengendalikan praktik dan penerapannya, tidak dapat menjamin bahwa data statistik yang diperoleh sesuai dengan realitasnya.

Dari sisi yang lain, anggapan bahwa satu-satunya data yang bisa dipercaya adalah hasil sensus merupakan anggapan yang melecehkan banyak sekali pakar statistik yang menekuni bidang survai dengan segala seluk-beluknya. Dengan anggapan ini, penemuan teknik survai untuk menghasilkan data yang tidak bias menjadi tidak lagi berguna.

Satu hal yang dilupakan oleh penggagas metode sensus benih ini adalah latar belakang mengapa survai harus digunakan. Yang lazim di instansi mana saja, sumber daya khususnya anggaran dan ketersediaan SDM yang kompeten selalu terbatas, karena keterbatasan inilah pelaksanaan sensus apalagi setiap bulan mustahil dapat dilakukan dengan ideal. Terlebih lagi kalau kita menyadari bahwa dalam penerapan survai yang tiga bulanan saja masih sangat banyak dinas kelautan dan perikanan kabupaten/ kota yang tidak mampu menyediakan anggaran biaya maupun SDM yang kompeten.

Sebagai ilustrasi nyata, Direktorat Perbenihan hanya mampu membayar honor satu orang petugas statistik kabupaten. Petugas yang satu orang ini, di salah satu kabupaten sampel,  harus mengambil data dari 800-an pembenih ikan yang tersebar di 66 desa setiap bulannya. Artinya, dengan 20 hari kerja, setiap harinya petugas tersebut harus berkeliling ke 3 desa untuk mendata 40 pembenih ikan.

Kalau setiap pengambilan data membutuhkan waktu sekitar 20 menit -termasuk transportasi- untuk setiap pembenih ikan, maka seorang petugas tersebut dalam satu harinya harus bekerja 13 jam tanpa istirahat. Lantas bagaimana dengan pekerjaan lain yang juga menjadi tanggungannya? Contoh kasus ini menunjukkan bahwa masih banyak pejabat kita yang berfikir untuk mendapatkan sesuatu yang sempurna tanpa melihat realitas dan ketersediaan sumber daya.

Semua menginginkan bahwa data statistik bukan data penduga, tetapi adalah data sebenarnya dari hasil sensus. Semua juga menginginkan data tersebut tersedia tepat waktu setiap bulannya. Tetapi, tidak ada yang benar-benar menyediakan sarana untuk mewujudkan semua keinginan tersebut. Biaya tidak ada alokasinya, tenaga yang kompeten tidak tersedia, kelembagaan statistik yang kuat juga tidak serius ditata. Tanpa hal itu semua survai tidak mungkin dilaksanakan dengan ideal, apalagi memaksa harus melakukan sensus setiap bulannya.

Dari semua yang sudah diuraikan, meskipun sudah bercerai dari Direktorat Produksi, sepatutnya statistik perbenihan tidak berusaha merubah semuanya dari awal. Ada sisi baik dari versi lama yang perlu dipertahankan, yaitu metodologi statistik termasuk form pengambilan dan pengolahan data. Karena siapapun yang memahami statistik benih dengan baik, hampir pasti akan mengatakan bahwa metodologi versi lama masih lebih baik daripada versi baru yang ada.

Kalaupun akan memperbaiki, maka perbaikilah praktek dan penerapan metodologi tersebut. Baik dengan cara menyediakan sumber daya sesuai kebutuhannya, maupun dengan menciptakan sistem pengendalian sehingga statistik perbenihan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Bagaimana pendapat Anda?

Arif Sujoko

Anggota Koral APS


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: