Oleh: opiniperikanan | Juli 25, 2012

Statistik Perikanan Budidaya yang Bisa Dipercaya

Statistik Perikanan Budidaya yang Bisa Dipercaya

OLEH ARIF SUJOKO

 

Sekitar Setangah Tahun yang lalu, saya menulis artikel tentang statistik perikanan budidaya tingkat nasional dengan judul yang sama. Inti dari artikel tersebut menjelaskan bahwa statistik perikanan budidaya memiliki banyak kendala, baik dari sisi keterbatasan jumlah petugas statistik yang mampu menerapkan metodologi statistik maupun kendala kelembagaan tentang urusan statistik yang seringkali lebih merupakan urusan politis daripada perhitungan teknis sebagaimana diungkap oleh Benjamin White. Karena hal tersebut, saya merasa skeptis kalau statistik perikanan budidaya itu “benar-benar” bisa dipercaya.

Saya tidak mengerti, apakah pandangan di atas sesuai juga dengan Statistik Perikanan Budidaya Kabupaten Tulungagung. Tetapi, untuk tahun 2012 rasanya statistik perikanan budidaya Kabupaten Tulungagung bukan hanya bisa dipercaya, melainkan harus dipercaya karena saya mengetahui sendiri bagaimana para penyuluh perikanan sangat antusias untuk memulai era baru statistik perikanan budidaya, yaitu statistik yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Saking antusiasnya para penyuluh tersebut, tanpa dukungan finansial sekalipun mereka tetap bersemangat, padahal kegiatan statistik ini bukanlah kegiatan penyuluhan sebagaimana pekerjaan utama mereka.

Dengan perubahan paradigma statistik perikanan budidaya tersebut, bukan berarti semua orang langsung percaya. Ada juga yang berpendapat bahwa statistik tersebut diperoleh hanya dari survai terhadap sampel, bukan dari sensus atau cacah lengkap sehingga hasilnya tidak akurat. Memang benar bahwa data statistik dikumpulkan penyuluh melalui kegiatan survai. Survai juga selalu mengandung ketidak pastian, tetapi bukan berarti bahwa hasilnya tidak bisa menjadi penduga tak bias bagi seluruh populasi.

Sebenarnya orang yang berpendapat bahwa statistik perikanan budidaya harus dilakukan dengan cara sensus kurang memahami ketentuan terkait penyelenggaraan statistik. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Statistik disebutkan bahwa statistik sektoral yang menjadi kewenangan instansi pemerintah dilaksanakan dengan cara survai bukan sensus yang memang domain BPS dalam perstatistikan. Ketentuan tersebut merupakan dasar yang kuat dalam penyelenggaraan statistik perikanan budidaya oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tulungagung (DKP).

Seandainya sensus dibenarkan sebagai cara mendapatkan data perikanan budidaya oleh DKP, tidak berati bahwa statistik harus selalu diselenggarakan dengan sensus. Penyelenggaraan sensus membutuhkan biaya yang sangat mahal, demikian juga dengan kebutuhan tenaga perstatistikan harus dalam jumlah yang banyak. Keduanya hampir tidak tersedia secara ideal di Tulungagung.

Bukankah dengan survai saja tidak tersedia biaya yang memadai, lantas bagaimana harus menyelenggarakan sensus? Kalau setiap 3 bulan harus dilakukan sensus misalnya, maka kegiatan statistik akan mengalahkan kegiatan pembangunannya, baik dari sisi pengerahan anggaran maupun tenaga. Hal ini tentu bukan model yang efisien untuk dijadikan pilihan pembangunan.

Dari sisi teknis perstatistikan, survai yang “baik dan benar” merupakan penduga tidak bias dari kondisi sebenarnya. Dalam hal pengambilan sampel, sebagian ahli statistik menggambarkan seperti seorang ibu yang sedang memasak sepanci gulai. Ketika ibu tersebut ingin merasakan tingkat keasinan dari gulai, maka diaduklah gulai tersebut kemudian diambil satu ujung sendok kecil. Dengan cara itu, cukup tidaknya garam dalam gulai dapat dirasakan dengan “tepat” tanpa perlu menghabiskan sepanci gulai hanya untuk mengetahui apakah perlu atau tidak ditambahkan garam.

Prinsip pengadukan sepanci gulai sebelum mengambil sampel dengan sendok kecil itulah yang dilakukan dalam pemilihan sampel perikanan budidaya. Dalam statistik prinsip tersebut merupakan bagian dari teori peluang yang menyatakan bahwa pengacakan akan menghasilkan sampel yang mewakili populasi dengan baik. Pengacakan ini juga mencegah terjadinya bias dalam statistik karena tanpa pengacakan sangat mungkin seseorang memilih sampel yang paling tinggi nilainya, sehingga ketika sampel tersebut digunakan untuk menafsirkan populasi hasilnya adalah perhitungan yang over estimate.

Dalam perikanan budidaya, “pemaksaan” sampel pembudidaya yang sangat tinggi produktivitasnya –padahal bagian terbesar dari pembudidaya memiliki produktivitas yang rendah– akan mengakibatkan masyarakat mengira bahwa rata-rata pembudidaya ikan di Tulungagung juga memiliki produktivitas yang tinggi. Tentu pandangan seperti itu adalah pandangan yang bias. Oleh karena itu, dalam pemilihan sampel digunakanlah teknik pengacakan sehingga pengaruh pandangan pribadi dapat dihindarkan.

Selain dari teknik pengambilan sampel, kualitas statistik perikanan budidaya juga dapat ditakar dengan menggunakan ilmu hitung peluang. Pada triwulan I Tahun 2012 diketahui rata-rata produktivitas pembudidaya ikan di Kabupaten Tulungagung adalah 2,70 kg ikan/ m2 kolam. Karena sifat data hasil survai selalu hanya data penduga, untuk memberikan gambaran seberapa tepat data tersebut sebagai penduga dari produktivitas sebenarnya harus kita ketahui selang kepercayaan yang terbentuk pada tingkat keyakinan tertentu, misalnya 90%.

Dari perhitungan yang dilakukan dapat dinyatakan bahwa kita yakin 90%, sebenarnya produksi perikanan budidaya berada pada kisaran 2,14 kg ikan/ m2 kolam sampai dengan 3,27 kg ikan/ m2 kolam. Selang yang terbentuk antara 2,14 sampai dengan 3,27 tersebut dinamakan sebagai selang kepercayaan 90%. Semakin sempit selang yang terbentuk, sampel yang kita gunakan adalah semakin baik untuk menduga populasi.

Sekarang lihatlah rata-rata produktivitas sampel 2,70 kg ikan/ m2 kolam dan selang kepercayaan 90% yang terbentuk, yaitu 2,14 < µ < 3,27. Dengan melihat sempitnya jarak antara batas selang yang terbentuk dapat kita yakini bahwa sampel yang kita gunakan dalam statistik perikanan budidaya relatif mampu menghasilkan data yang berkualitas, yaitu data sebagai penduga tidak bias produksi perikanan budidaya.

Kalau keterangan seperti di atas dianggap belum cukup meyakinkan bahwa Statistik Perikanan Budidaya Kabupaten Tulungagung memang bisa dipercaya, tidak ada langkah lain untuk membuktikan anggapan tersebut kecuali dengan merenungkan perkataan Edward W. Demming, “In God we trust, all other bring data”.

Pernyataan tersebut merupakan prinsip ilmiah untuk setiap orang yang ingin menyatakan bahwa pendapatnya adalah lebih benar, yaitu harus membawa data sebagai bukti kebenarannya. Artinya, kalau statistik perikanan budidaya yang saya maksud dalam tulisan ini masih disalahkan, maka yang menyalahkan itu harus mampu menunjukkan dengan data yang dimilikinya, bukan dengan persepsinya saja.

Bagaimana pendapat Anda?

 

Arif Sujoko

Pemerhati Kebijakan Kelautan dan Perikanan

 

Sumber: Surat Kabar Pendidikan dan Pembangunan KORAN Edisi 15/ 17-25 Juli 2012


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: