Oleh: opiniperikanan | November 19, 2012

Budidaya Mas Koki dan Dukungan Program Pembangunan

Budidaya Mas Koki dan Dukungan Program Pembangunan

OLEH ARIF SUJOKO

 

Jauh sebelum budidaya ikan konsumsi marak di Kabupaten Tulungagung, masyarakat sudah mengenal bahwa Tulungagung adalah penghasil ikan hias mas koki terbesar di Indonesia. Kini, mas koki semakin dikenal orang, bahkan oleh pemerintah daerah dijadikan sebagai maskot Kabupaten Tulungagung. Dengan kondisi yang bagus tersebut, tentu pemerintah mengharapkan para pembudidaya mas koki semakin sukses dan tanpa masalah yang krusial.

Tetapi, kalau pada bulan September kemarin kita melihat secara langsung budidaya mas koki yang dilakukan oleh masyarakat, khususnya di wilayah Kecamatan Boyolangu, kita akan mendapati kondisi penurunan produksi yang cukup signifikan. Pemicu utamanya adalah berbagai gangguan budidaya yang terjadi pada bulan Juni-Juli-Agustus. Bulan tersebut dalam masyarakat jawa dikenal dengan musim mbediding. Musim berkah bagi pemilik kebun mangga, tetapi musibah bagi pembudidaya ikan.

Kalau ditelisik lebih dalam, salah satu gangguan tersebut adalah serangan penyakit ikan. Masalah lainnya yang cukup dirasakan pembudidaya adalah keterbatasan stok induk berkualitas, harga pakan pabrikan yang terus menanjak, hingga ranah pemasaran yang menempatkan pembudidaya mas koki hanya sebagai price taker (penerima harga).

Rupa-rupanya meskipun mas koki ini telah menjadikan kabupaten Tulungagung –bersama Kediri dengan budidaya cupang dan Blitar dengan budidaya koinya- sebagai bagian dari segi tiga emas ikan hias di Jawa Timur, bukan berarti budidayanya tidak memiliki kendala sehingga sebagian dari kita terlena tidak berusaha mengantisipasi maupun mengurangi dampaknya. Justru dengan teridentifikasinya beberapa permasalahan yang membelit budidaya mas koki di atas, pemerintah dapat dengan tepat membuat kegiatan yang bermanfaat.

Masalah pertama, serangan penyakit. Dalam budidaya mas koki, sedikitnya terdapat 3 jenis penyakit yang dapat memberikan ancaman serius, yaitu Lernea, Argulus, dan Branchiomycosis. Serangan Lernea yang seperti tusukan panah ataupun argulus yang dikenal sebagai tumo walaupun terjadi hampir sepanjang tahun, pengendaliannya sudah bisa dikatakan memadai.

Justru yang paling beresiko adalah serangan Branchiomycosis yang ditandai dengan kerusakan pada insang dan munculnya “serat” jamur. Saking berbahayanya penyakit ini, pada saat musim mbediding tersebut tidak sedikit pembudidaya yang mengalami kematian hingga 100%.

Karena siklus serangan penyakit ini relatif sudah terpetakan, maka pada tahun depan seyogyanya dampak dari serangan ini juga dapat diturunkan. Dalam hal ini, tentu pembudidaya perlu mendapatkan transfer pengetahuan dari ahli-ahli penyakit tentang bagaimana mencegah serangan Branchiomycosis dan bagaimana pula menurunkan potensi kerugian apabila penyakit benar-benar menyerang. Dalam memberikan pelatihan atau sosialisasi, instansi terkait juga harus peka dengan waktu sehingga hasil dari pelatihan tersebut bisa sangat bermanfaat.

Sebuah pelatihan yang diselenggarakan pada bulan September, misalnya, jelas-jelas bukan menjadi bagian dari upaya pengendalian penyakit pada tahun depan. Hal ini disebabkan, pada bulan September serangan penyakit ini sudah mereda, bahkan bisa saja tidak ada. Karena itu, penjadwalan kegiatan pelatihan setidaknya pada bulan April sehingga memasuki masa kritis Juni hingga Agustus, pembudidaya sudah siap dengan serangkaian upaya pengendalian.

Masalah kedua, ketersediaan induk berkualitas. Walaupun secara umum kualitas mas koki dari Tulungagung sudah lebih unggul dibanding mas koki dari daerah lain dan konon katanya hanya kalah dengan mas koki impor dari China, tanpa dukungan induk unggul secara konsisten pembudidaya akan mengalami banyak permasalahan. Mulai dari pertumbuhan ikan yang semakin lambat, kekebalan terhadap serangan penyakit maupun kualitas yang mulai menurun.

Saat ini, pembudidaya memang kurang berkonsentrasi terhadap manajemen suplai induk ikan hias karena sumber daya yang tersedia digunakan untuk fokus dalam kegiatan budidaya. Oleh karena itu, sudah saatnya instansi pemerintah mengambil peran dalam menciptakan induk unggul, yang mana induk ini natinya disalurkan kepada para pembudidaya.

Masalah ketiga, harga pakan yang terus mengalami kenaikan. Masalah ini sebenarnya bukan hanya masalah pembudidaya ikan di Tulungagung, tetapi sudah menjadi masalah nasional. Kalau ditanyakan tentang solusinya, dengan melihat sumber daya Pemerintah Kabupaten Tulungagung yang tersedia tidak banyak yang bisa dilakukan. Memang ada teknik pembuatan pakan ikan mandiri, tetapi untuk budidaya ikan hias yang tidak hanya menghendaki pertumbuhan yang bagus tetapi juga “kualitas hias” itu sendiri, produksi pakan ikan mandiri bukan suatu solusi yang ampuh.

Oleh karena itu, untuk mengimbangi kenaikan harga pakan maka harga ikan hiaspun juga harus dinaikkan. Namun, hal ini terbentur pada masalah keempat, yaitu kebanyakan pembudidaya hanya berperan sebagai price taker saja. Mereka bukan para penentu harga, tetapi hanya menerima harga.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Memang sesuatu yang aneh, ketika sentra produksi mas koki ternyata tidak mampu menentukan harga. Lebih aneh lagi kalau kita mengetahui bahwa banyak mas koki yang berasal dari Tulungagung, pada fase selanjutnya tidak lagi menggunakan brand “Tulungagung”, justru sudah berganti sebagai mas koki dengan brand “Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali”. Bahkan menurut penuturan seorang hobiis di Jakarta, pernah juga brand ini berganti brand impor dari Thailand.

Masalah terakhir ini seharusnya menjadi konsentrasi Pemerintah Kabupaten Tulungagung untuk menyelesaikannya, yaitu dengan jalan menerapkan strategi pemasaran dan regulasi sehingga bisa melindungi brand mas koki Tulungagung dari bajakan brand lain. Hal seperti ini bisa dilakukan dengan cara menginisiasi kebijakan surat keterangan asal (SKA) maupun mengadakan kontes ikan hias mas koki yang tidak hanya tingkat lokal, tetapi bisa ditingkatkan pada level regional dan nasional.

Hal yang tidak kalah pentingnya adalah merevitaliasi peran asosiasi pembudidaya ikan hias sehingga benar-benar mengedepankan kepentingan pembudidaya. Asosiasi seperti ini hanya dapat berjalan baik apabila benar-benar dikelola oleh para pembudidaya dan tidak bercampur dengan kepentingan pedagangnya. Karena bagaimanapun juga kepentingan pembudidaya dengan pedagang ikan hias tidak hanya berbeda, namun sudah bertolak belakang. Pada titik ekstrim, pembudidaya berkepentingan mendapatkan harga jual semahal-mahalnya, sebaliknya pedagang menginginkan harga beli semurah-murahnya.

Bagaimana pendapat Anda?

 

ARIF SUJOKO

Pemerhati kebijakan pembangunan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: