Oleh: opiniperikanan | Februari 14, 2013

Peningkatan Konsumsi Ikan: Sebuah Strategi Pembangunan

Peningkatan Konsumsi Ikan: Sebuah Strategi Pembangunan

OLEH ARIF SUJOKO

Dalam rangka meningkatkan konsumsi ikan masyarakat, pembangunan kelautan dan perikanan di Kabupaten Tulungagung patut menjadi model yang mesti dicontoh oleh kabupaten lainnya di Indonesia. Data BPS (2012) menunjukkan bahwa dalam rentang 5 tahun (2007-2011) konsumsi ikan perkapita mengalami kenaikan hingga 71,95%. Kenaikan tertinggi terjadi  pada tahun 2010, yaitu 57,76%, sedangkan tahun-tahun lainnya pada kisaran 2-4%.

Keberhasilan tersebut tentu tidak datang begitu saja, dengan demikian akan sangat menarik kalau kita mempelajari semua strategi pembangunan yang berkaitan dengan kenaikan konsumsi ikan per kapita. Sebelum berpanjang lebar membahas program pembangunan, ada baiknya kita memahami bagaimana angka konsumsi ikan per kapita tersebut di hitung sehingga kita dapat menimbang sejauh mana keakuratan angka konsumsi ikan per kapita ini dan manfaat dari perhitungan tersebut untuk membuat strategi pembangunan yang tepat.

Angka konsumsi ikan per kapita di sebagian wilayah kabupaten dihitung dengan menggunakan konsep Food Balance Sheet. Dalam konsep ini, komponen utama dalam perhitungan adalah produksi internal, perdagangan ke luar wilayah dan perdagangan dari luar wilayah, termasuk produk yang tercecer. Hasil dari perhitungan tersebut kemudian dibagi dengan jumlah penduduk. Untuk level nasional, penggunaan metode ini cukup akurat karena ekspor dan impor memiliki catatan yang lengkap,  setidaknya secara teoritis.

Tetapi untuk level kabupaten, keampuhan metode ini sangat mungkin disangsikan mampu memberikan gambaran konsumsi ikan per kapita yang akurat. Penyebab utamanya adalah lalu lintas perdagangan ikan dari dan ke luar wilayah kabupaten hampir sama sekali tidak tercatat. Dengan metode survaipun cukup rumit –setidak-tidaknya dengan melihat sumber daya yang ada- karena perdagangan ikan bukan lagi suatu rantai perdagangan tetapi sudah menjadi jaring-jaring perdagangan yang melibatkan banyak pelaku baik dari dalam maupun dari luar wilayah kabupaten.

Dari sisi kegunaan, hasil perhitungan dengan Food Balance Sheet yang akurat hanya tepat untuk melihat seberapa banyak stok penyediaan ikan untuk konsumsi, sehingga strategi pembangunanpun terbatas pada sektor produksi dan perdagangan. Perhitungan seperti ini tidak dapat menentukan sebaran konsumsi ikan per kapita di masyarakat sehingga diketahui kelompok masyarakat yang konsumsi ikannya masih rendah, sudah cukup atau lebih dari cukup.

Pemilahan berdasarkan kelompok ini sangat penting karena mustahil strategi pembangunan pemerintah mampu menjangkau seluruh kelompok tanpa harus memprioritaskan salah satunya. Karena kelemahan metode Food Balance Sheet, baik dalam menentukan konsumsi ikan per kapita maupun persebaran konsumsi ikan per kapita masyarakat dalam wilayah kabupaten, pemerintah harus mencoba metode lain misalnya survai konsumsi ikan rumah tangga. Dengan metode survai, tidak hanya angka konsumsi ikan per kapita yang diperoleh tetapi juga lapisan-lapisan masyarakat berdasarkan tingkat konsumsi ikannya.

Secara umum, setiap lapisan memiliki pertimbangan-pertimbangan dominan yang cenderung sama dalam memutuskan seberapa banyak rumah tangganya harus mengkonsumsi ikan. Untuk masyarakat lapisan bawah misalnya keengganan konsumsi ikan lebih didasarkan pertimbangan biaya untuk mendapatkan ikan yang dianggap relatif mahal. Sedangkan untuk masyarakat golongan ekonomi atas faktor ketidak praktisan dalam penyiapan makanan berbahan baku ikan merupakan pertimbangan penting dalam mengkonsumsi ikan.

Karena lapisan-lapisan masyarakat tersebut tidak diketahui, maka Program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) dengan inti berupa sosialisasi tentang manfaat makan ikan dan demonstrasi inovasi produk olahan hasil perikanan sangat mungkin tidak memiliki esensi pembangunan yang tepat dimana kelompok rentan gizi yang sangat rendah konsumsi ikannya tidak menjadi sasaran dari Gemarikan.

Demikian juga berbagai demonstrasi olahan hasil perikanan dalam bentuk inovasi olahan bagi penduduk ekonomi bawah lebih abstrak lagi karena untuk membeli ikan segar atau olahan tradisional saja biaya yang dikeluarkan cukup besar apalagi untuk mengkonsumsi produk inovasi olahan ini, tentu biayanya jauh lebih besar.

Karena hal tersebut di atas, rasa-rasanya kegiatan dalam Program Gemarikan ini hanya berlaku untuk golongan yang secara ekonomi sudah cukup mapan sehingga peningkatan konsumsi ikan dapat dilakukan dengan cara penyadaran tentang manfaat ikan untuk mutu kegidupan sekaligus menyediakan produk inovasi olahan yang tidak lagi merepotkan apabila ingin mengkonsumsinya. Mungkin ada yang bertanya, kalau begitu bukankah Program Gemarikan ini sudah pada jalan yang benar dimana semua sumberdaya pemerintah digunakan untuk meningkatkan konsumsi ikan golongan yang sudah mapan?

Untuk menjawabnya, kita perlu mengingat satu dari tiga pertanyaan utama dalam suatu sistem ekonomi sebagaimana dijelaskan oleh Joseph Stiglitz, salah seorang peraih nobel ekonomi. Pertanyaan tersebut adalah untuk siapa suatu barang diproduksi? Sebuah ekonomi yang ditentukan oleh pasar, biasanya suatu barang yang diproduksi (baca: disediakan) adalah mengikuti kekuatan pasar yaitu untuk memenuhi kebutuhan orang kaya. Akibatnya konsumsi golongan kaya meningkat meninggalkan konsumsi sebagian besar masyarakat. Sedangkan dalam ekonomi sosialis bahkan juga yang sering dikatakan ekonomi kerakyatan, barang yang disediakan adalah barang kebutuhan masal dari sebagian besar masyarakat.

Dari dua sistem ekonomi di atas, strategi peningkatan konsumsi ikan sebagaimana dilakukan saat ini sepertinya memiliki kecenderungan untuk meningkatkan konsumsi masyarakat golongan atas, karena merekalah yang bisa diajak membicarakan tentang betapa sehatnya makan ikan dan betapa praktisnya mengkonsumsi ikan dalam berbagai produk olahan. Kalau strategi ini diteruskan tanpa pijakan pembangunan yang berkeadilan, maka sekali lagi kita telah melakukan proses anti pembangunan.

Akibatnya, laju peningkatan konsumsi ikan per kapita yang cukup tinggi tersebut diperoleh melalui proses yang meninggalkan pemenuhan kebutuhan minimal konsumsi ikan masyarakat miskin dan juga meninggalkan banyak masyarakat lainnya.

Bagaimana pendapat Anda?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: