Oleh: opiniperikanan | Mei 10, 2013

Menuju Statistik Perikanan Budidaya yang Berkualitas

Menuju Statistik Perikanan Budidaya yang Berkualitas

OLEH: ARIF SUJOKO

Saya senang luar biasa ketika tahun 2012 kemarin pelaksanaan Survai Perikanan Budidaya Kabupaten Tulungagung bisa dikatakan berjalan dengan baik, bahkan dalam satu tahun survai bisa dilaksanakan hingga 4 kali. Padahal dari berbagai perbincangan informal diketahui juga dugaan bahwa banyak wilayah lain yang belum mampu menyelenggarakan survai perikanan budidaya sesuai kaidah statistika.

Sulitnya penyelenggaraan survai perikanan budidaya secara ideal seringkali dikarenakan keterbatasan tenaga dan biaya, tetapi seandainya tersedia tenaga dan juga biaya, bukan otomatis survai bisa diselenggarakan dengan baik. Yang paling penting sebenarnya adalah komitmen dari semua pihak yang terlibat, mulai petugas pengumpul data, pengolah data, hingga dukungan manajemen dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP).

Besarnya komitmen tersebut juga menjadi kunci dari kesuksesan Survai Perikanan Budidaya Kabupaten Tulungagung Tahun 2012. Komitmen Petugas Penyuluh Perikanan sebagai pengumpul data begitu tingginya, walau untuk kerja survai tanpa ada honornya. Hal ini merupakan bukti bahwa komitmen kuat merupakan modal kesuksesan, mengalahkan uang dan dukungan peralatan.

Tetapi, berhasilnya survai karena komitmen tersebut hendaknya juga tidak dijadikan alasan untuk selanjutnya malah tidak mendukung mereka dengan anggaran, justru karena mereka sudah menunjukkan kinerja yang baik walau minim sumber daya, mereka sangat layak untuk diberi penghargaan.

Pelajaran lain dari keberhasilan penyelenggaraan survai perikanan budidaya di tahun 2012 adalah hasilnya. Sudah menjadi rahasia umum di Indonesia –meski tidak pernah dibuktikan ketidakbenarannya– bahwa sebagian statistik yang dikeluarkan adalah statistik di atas meja, kalaupun dilaksanakan survai yang ada adalah rekayasa, misalnya sengaja memilih sampel yang produktivitasnya tinggi saja sehingga hasilnyapun juga sama tingginya.

Semua itu dilakukan karena adanya ketakutan, apabila survai yang sesuai kaidah statistika dilaksanakan hasilnya pasti akan buruk, bahkan bisa jadi volume produksi akan lebih rendah daripada tahun sebelumnya. Padahal, menurunnya volume produksi bisa menjadi aib bagi banyak orang.

Memang hasil kerja statistik di atas meja maupun statistik rekayasa menunjukkan kecenderungan terus naik. Hal ini tentu menyenangkan dan membanggakan sebagian orang di tingkat kabupaten, provinsi maupun pemerintah pusat.

Tetapi, dimana saja di dunia ini pelanggaran kaidah statistika suatu saat akan menjadi malapetaka. Kalaupun tidak, fungsi statistik sebagai alat untuk mengevaluasi jalannya pembangunan tidak lagi ampuh digunakan.

Cobalah tengok pengalaman Cina dengan statistik kependudukannya. Pernah di masa lalu Cina menerapkan kebijakan menghukum keluarga yang memiliki anak lebih dari satu, bahkan kepala kampungnya juga kena hukuman apabila di wilayahnya hal itu terjadi. Akibatnya, masyarakat tidak pernah melaporkan kelahiran anak ke dua dan seterusnya. Hal itu baru terungkap ketika terjadi defisit dalam neraca pangannya karena ternyata secara tiba-tiba muncul sekitar 50 juta orang yang harus terpenuhi kebutuhan pangannya, padahal dalam statistik resmi kependudukan, mereka tidak terdata sebagai warga negara.

Oleh karena itu, dalam situasi kelemahan kelembagaan, statistik seringkali bukan urusan ilmiah, tetapi lebih sebagai pekerjaan politis yang bisa jadi penuh dengan kebohongan. Dalam bukunya How to Lie with Statistics, Darrel Huff membuka lembaran bukunya dengan pernyataan Benjamin Disraeli, “There are three kinds of lies: lies, dammed lies, statistic”.

Sebenarnya ketakutan bahwa hasil survai akan lebih buruk daripada tahun sebelumnya adalah ketakutan yang tanpa dasar. Padahal, peluang untuk mendapatkan hasil yang lebih baik juga sama besarnya. Lihat saja perbandingan volume produksi perikanan budidaya Kabupaten Tulungagung tahun 2011 dengan 2012, kenyataannya pada tahun 2012 yang murni hasil dari survai, volume produksi justru naik sekitar 30%. Dari sini setiap orang semestinya sadar bahwa survai yang benar tidak selalu menimbulkan ketakutan, justru bisa menerbitkan kebahagiaan.

Kalau tahun kemarin merupakan tahun uji coba pelaksanaan survai perikanan budidaya, tahun 2013 ini adalah tahun untuk memperbaiki kualitasnya. Sebenarnya pada akhir 2012 -dengan mengenali bahwa aktivitas budidaya ikan di Kabupaten Tulungagung pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua, sebut saja sebagai kelompok kecamatan yang potensial dan kelompok kecamatan yang kurang potensial- teknik sampling yang digunakan rencananya akan dirubah dari multistage sampling yang setiap tahapnya menggunakan simple random sampling menjadi multistage sampling yang memadukan stratified random sampling dengan simple random sampling. Akan tetapi, dukungan sumber daya tidak kunjung datang sehingga rencana itupun hanya tinggal rencana saja.

Walaupun rencana yang lebih ideal gagal diwujudkan, bukan berarti tidak ada lagi upaya untuk memperbaiki kualitas statistik perikanan budidaya. Di tahun 2013, upaya perbaikan dilakukan dengan menghilangkan pengaruh outlier.

Konsep ini digunakan karena dalam proses pengambilan data yang sebagian besar didasarkan pada ingatan pembudidaya ikan, bukan dari catatannya, data yang terambil bisa saja bukan bagian dari populasi yang dibicarakan –misalnya double counting dengan produksi triwulan sebelumnya– sehingga memunculkan nilai ekstrim yang sangat berpengaruh terhadap angka produksi kabupaten.

Karena adanya nilai ekstrim tersebut, nilai tengah yang diperoleh juga relatif besar. Padahal dari sisi frekuensi munculnya, nilai ekstrim tersebut relatif jarang, secara umum kurang dari 5%. Jelas, nilai tengah seperti ini kurang “tegar” untuk digunakan. Oleh karena itu, sebagai langkah sederhana dalam pengolahan data dilakukan teknik menghilangkan pengaruh outlier yang muncul dari perhitungan produksi perikanan budidaya.

Memang penanganan outlier ini hanya langkah kecil saja untuk meningkatkan kualitas Statistik Perikanan Budidaya Kabupaten Tulungagung di tengah minimnya dukungan sumber daya, tetapi tanpa langkah kecil, mimpi besar statistik yang berkualitas tidak akan pernah terwujud juga.

Bagaimana pendapat Anda?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: