Survai Penyakit Ikan sebagai Penjelas Statistik Produksi Perikanan Budidaya

OLEH: ARIF SUJOKO

Selama dua tahun mendesain survai produksi perikanan budidaya, sedikitnya ada dua hal yang layak menjadi renungan. Pertama, kalau kita secara obyektif melihat jenis program pembangunan, kualitas pelaksanaan, dan jangkauan pelaksanaan yang diselenggarakan oleh pemerinta pusat, provinsi, maupun kabupaten/ kota bagi pembudidaya ikan di daerah, maka bisa jadi kita akan mendapati perbedaan yang tidak terlalu berarti dari tahun ke tahun.

Dengan kondisi pola pembangunan yang nyaris serupa, adalah hal yang wajar apabila kita memprediksi bahwa produksi perikanan budidaya dari tahun ke tahun seharusnya bergerak naik turun di sekitar volume tertentu, bukan malah naik secara terus-menerus dengan persentase yang luar biasa besarnya. Hal yang sama dijelaskan oleh Nachrowi (2007) dalam pembahasan ekonometri tentang pendekatan pola (trend), dimana pendekatan ini akan dapat diandalkan apabila pola di masa mendatang tidak jauh beda dengan pola yang terjadi di masa lalu.

Kedua, karena peningkatan produksi sudah menjadi harga mati, padahal di tingkat pembudidaya naik turunnya produksi dipengaruhi business cycle yang memang fluktuatif, terjadinya penurunan produksi selalu disertai dengan keharusan untuk memberikan sebuah penjelasan. Dalam penjelasan ini, biasanya serangan penyakit menjadi alasan, baik alasan sebenarnya maupun sekedar kambing hitam saja.

Kondisi seperti itu sebenarnya adalah hal yang wajar, mengingat serangan penyakit sebagai sebab utama penurunan produksi juga menjadi pendapat Cameron (2002), tetapi di banyak kabupaten data yang memadai untuk menjelaskan insidensi kasus penyakit ikan diduga belum cukup tersedia.

Hal ini disebabkan sistem monitoring penyakit ikan yang berjalan tidak didesain dengan pendekatan statistik inferensia. Akibatnya, data serangan penyakit ikan yang terkumpul hanya mampu menjelaskan data itu sendiri bukan sebagai penjelas seluruh populasi. Karena itu, data yang ada hampir selalu bersifat under estimate.

Sebagai contoh, untuk tingkat kerugian akibat serangan penyakit, data dalam sistem monitoring tidak mampu menjelaskan “total kerugian di kabupaten mencapai sekian rupiah”, tetapi kesimpulan yang diberikan hanyalah, “Kerugian di kabupaten minimal sekian rupiah”.

Karena itu, perlu dikembangkan pendekatan statistik inferensia dalam pendataan serangan penyakit ikan melalui suatu survai, sehingga data yang dihasilkan menjadi penjelas yang tidak bias dari populasi. Memang, pelaksanaan survai serangan penyakit ikan seperti ini bukan pekerjaan mudah, terutama ketika akan memproyeksikan data sampel menjadi data populasi. Tetapi, hal ini bukan berarti tidak bisa dilakukan karena pada kabupaten yang benar-benar menjalankan statistik produksi perikanan budidaya database yang memungkinkan kita menggunakan pendekatan rumah tangga atau area sebagai dasar proyeksi seharusnya telah tersedia.

Karena hal-hal di atas, pada triwulan IV tahun 2013 ini, Tim Statistik Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tulungagung mencoba mendesain survai serangan penyakit ikan untuk menduga insidensi serangan penyakit ikan pada pembudidaya.

Dengan memperhatikan ketersediaan sumber daya, pada uji cob pertama ini, survai hanya berusaha menggali informasi ada tidaknya serangan penyakit ikan. Barangkali hal ini terlihat sangat sederhana, tetapi sebagai langkah awal, sebuah kesederhanaan adalah keniscayaan yang mutlak.

Dalam bukunya Pengantar ke Filsafat Sains, Andi Hakim Nasoetion menjelaskan langkah percobaan Gregor Johann Mendel sebagai berikut, “Kalau kita perhatikan kembali cara Mendel membuat percobaan untuk mempelajari cara-cara pewarisan sifat zuriat dan tetua, dapat kita amati bahwa bahan percobaan yang dipilihnya ialah yang paling sederhana. Hal ini adalah hal yang harus diikuti dalam suatu penelitian.”

Berangkat dari hal tersebut, survai didesain dengan metode multistage sampling yang dilakukan di 17 desa perikanan budidaya yang tersebar di 11 kecamatan. Survai ini melibatkan 156 RTP sebagai responden. Dari hasil survai diketahui bahwa pada triwulan IV tahun 2013 ini, serangan penyakit ikan dialami oleh 23,64% pembudidaya ikan di Kabupaten Tulungagung. Data diperoleh juga menunjukkan pada tingkat kepercayaan 95%, margin of error dari survai ini adalah sebesar 6,67%.

Hasil di atas yang diperoleh dari sebagian kecil sampel dalam satu populasi harus dipahami hanya sebagai penduga parameter dalam populasi tersebut sehingga nilainya tidak perlu sama persis dari nilai parameter sesungguhnya yang tidak kita ketahui.

Tetapi, adanya margin of error, membantu kita mengukur keterandalan hasil survai, sehingga dalam survai kali ini bisa disimpulkan bahwa kita yakin 95% insidensi serangan penyakit ikan dalam populasi yang tidak kita ketahui angka pastinya tersebut berada antara angka 16,97% hingga 30,31%.

Kalau dihubungkan kembali dengan naik turunnya volume produksi perikanan budidaya khususnya dalam periode triwulanan, maka kita akan terbantu dalam menjelaskan perubahan produksi tersebut dengan didasarkan pada perubahan insidensi serangan penyakit ikan, sehingga penjelasan yang diberikan adalah penjelasan ilmiah dan tidak lagi sekedar kambing hitam.

Setelah berhasil dalam kesederhanaanya, survai serangan penyakit ikan ini bisa dikembangkan untuk mendapatkan berbagai data, misalnya jenis penyakit, tingkat kematian, tingkat kerugian, dan yang lainnya. Demikian juga cakupan pelaksanaannya, akan sangat bermanfaat apabila dilaksanakan pada tingkat nasional, sehingga kita bisa mengetahui data nasional, misalnya, seberapa besar kerugian akibat serangan penyakit ikan secara nasional dalam periode tertentu. Data kerugian seperti ini akan bermanfaat dalam penentuan besar kecilnya anggaran pengendalian penyakit ikan karena dapat diperbandingkan dengan kerugian yang dialami karena serangan penyakit ikan.

Tetapi, kembali kepada prinsip kesederhanaan tadi, adalah tidak sepenuhnya tepat apabila survai serangan penyakit ikan ini langsung diterapkan di seluruh kabupaten di Indonesia. Hal ini setidaknya didasari oleh kenyataan bahwa ketersediaan sumber daya antar kabupaten sangat variatif, baik kuantitas maupun kualitasnya.

Karena itu, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya bisa memulainya dengan menyusun panduan desain survai yang handal untuk kemudian disosialisasikan dan diuji cobakan di beberapa provinsi atau beberapa kabupaten sebagai pilot project, sebelum kemudian dievaluasi kembali dan diterapkan secara nasional.

Bagaimana Pendapat Anda?

Iklan

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori